Opini

Kalimantan Timur Digempur Hujan, Apa Penyebabnya?

Belakangan ini, wilayah Kalimantan Timur seringkali dilanda hujan. Bukan sembarang hujan, namun hujan yang terjadi memiliki intensitas yang sedang

Kalimantan Timur Digempur Hujan, Apa Penyebabnya?
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Ilustrasi 

Ilham Rosihan Fachturoni
Pengamat Cuaca Stasiun Meteorologi Sepinggan

Ni Putu Andini Ganiswari
Pengamat Cuaca Stasiun Meteorologi Bima

Belakangan ini, wilayah Kalimantan Timur seringkali dilanda hujan. Bukan sembarang hujan, namun hujan yang terjadi memiliki intensitas yang sedang hingga ekstrem, dan tak jarang berlangsung dalam tempo yang relatif lama. Sebelumnya BMKG telah menuturkan bahwa prakiraan awal musim kemarau secara umum di Indonesia adalah Mei-Juli 2017, yang artinya bahwa seharusnya di bulan Juni ini, frekuensi terjadinya hujan sudah mulai berkurang. Lalu pertanyaannya adalah apakah penyebab terjadinya hujan belakangan ini? Khususnya hujan yang terjadi di daerah Kalimantan Timur.
Sebelumnya mari kita tilik cuaca dalam skala yang lebih besar dahulu. Indonesia adalah Negara tropis dimana fenomena cuaca yang terjadi sangatlah dinamis atau cepat berubah. Hal ini disebabkan karena kita mempunyai penyinaran matahari yang sangat banyak (daerah tropis) yang berperan sebagai energi utama pembangkit cuaca serta ditambah dengan kondisi geografis negara kita yang merupakan negara kepulauan.
Kedua hal inilah yang mempercepat interaksi antara lautan dan daratan hingga membentuk suatu sistem cuaca yang berubah begitu cepat. Perlu digaris bahwahi bahwa tidak hanya faktor internal di atas, cuaca Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal misalnya fenomena El-Nino, La-Nina, Dipole Mode dan MJO (Madden-Julian Oscillation).
Faktor-faktor eksternal inilah yang seringkali bertanggung jawab terhadap kejadian cuaca yang kadang bertentangan dengan musim yang harusnya sudah terjadi. Fenomena MJO adalah salah satu faktor eksternal yang ditengarai aktif di Indonesia saat ini dan bertanggungjawab terhadap fenomena hujan yang sedang kita bahas.
MJO adalah gangguan atmosfer (gangguan cuaca) di wilayah tropis berupa penjalaran gugusan awan dan hujan yang bergerak dari barat ke timur dengan periode waktu rata-rata 30-60 hari. Umumnya, MJO pertama muncul di Samudra Hindia (barat sumatera) lalu bergerak ke timur melewati Indonesia barat, tengah dan timur dan terus bergerak hingga mencapai titik asalnya dalam periode waktu 30-60 hari. MJO terdiri dari dua fase yakni fase penambahan hujan dan pengurangan hujan. Saat melewati suatu wilayah, MJO akan mengakibatkan penambahan curah hujan di wilayah yang bersangkutan dan setelah dilewati, curah hujan di wilayah tersebut akan kembali normal atau bahkan berkurang. Berdasarkan pantauan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Amerika, bahwa mulai akhir Mei lalu, MJO telah sampai di wilayah Indonesia. MJO tidak menyebabkan pernambahan hujan secara serempak di Indonesia karena sistem MJO sendiri adalah bergerak, sehingga secara sederhana penambahan curah hujan yang terjadi adalah bergilir sesuai arah gerak nya.
Pesisir Barat Sumatera merupakan salah satu wilayah yang pertama kali menerima dampak MJO. Sebagai contoh di akhir Mei lalu, daerah Padang, Sumatera Barat mengalami beberapa kali kejadian banjir akibat penambahan curah hujan dari fenomena MJO. Saat ini MJO diprakirakan telah mencapai wilayah Indonesia Tengah, salah satunya adalah Kalimantan Timur. Sebagai akibatnya, kita menerima hujan bertubi-tubi awal Juni ini. Kondisi ini diperkuat dengan adanya daerah belokan angin lapisan atas yang terdapat di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Selat Makassar dari tanggal 1 Juni Lalu. Belokan arah angin atas mengakibatkan penumpukan massa udara yang mengandung banyak uap air (konvergensi).
Penumpukan ini akan bertambah banyak menjadi awan yang besar hingga turun menjadi hujan. kejadian ini dapat dianalogikan seperti jika kondisi jalanan ramai yang akan macet ketika mencapai jalanan yang berbelok (tikungan), karena kendaraan akan melambat dan akhirnya berdesak-desakan. Begitupun uap air, ketika angin yang membawanya berbelok, maka kecepatannya pun akan melambat, kemudian berkumpul semakin banyak hingga membentuk awan dan hujan. Penambahan curah hujan di Kaltim akibat hadirnya fenomena MJO telah mengakibatkan timbulnya bencana banjir di beberapa wilayah di Kaltim.
Dalam skala yang lebih luas, Fenomena MJO kali ini terpantau sedikit bergeser ke wilayah utara equator. Hal ini tidak lepas dengan posisi matahari sebagai pembangkit cuaca yang saat ini berada di utara equator sehingga fenomena cuacanya pun ikut bergeser ke utara. Wilayah Indonesia yang terletak jauh di selatan equator misal bali, NTB dan NTT hanya sedikit atau bahkan tidak merasakan dampak MJO yang aktif sekarang ini. Sehingga di wilayah tersebut tanda-tanda musim kemarau telah terjadi, tepat seperti prakiraan awal musim kemarau yang dikeluarkan oleh BMKG.
Untuk kondisi kedepannya, NOAA telah mengeluarkan prediksi 15 hari kedepan (dimulai tanggal 1 Juni) berkaitan dengan fenomena MJO ini. Hasil prediksi dari banyak model cuaca yang dikeluarkan oleh NOAA menunjukkan bahwa kedepannya Fenomena MJO diprakirakan akan melemah bahkan mencapai kondisi netral. Diprakirakan juga mulai tanggal 6-10 Juni, curah hujan Indonesia khususnya Kalimantan Timur akan kembali ke normalnya, namun beberapa model bahkan menunjukkan akan adanya penurunan curah hujan sebagai efek setelah dilewati MJO. ini artinya bahwa ada kemungkinan kedepannya terdapat beberapa hari yang cerah tanpa hujan di wilayah Kalimantan Timur pasca MJO lewat atau kembali ke kondisi netral. Hasil Prakiraan model cuaca ini bisa saja berubah jika tiba-tiba terdapat gangguan cuaca lain yang aktif selama dalam periode prakiraan.
Sebagai informasi tambahan untuk kita bahwa informasi resmi mengenai cuaca, iklim, gempa serta peringatan dini ter-update kini bisa kita dapatkan dengan mudah dan free melalui smartphone kita dengan men-download aplikasi "Info BMKG" di Playstore maupun Appstore. Informasi yang lebih rinci mengenai daerah setempat dapat dilihat pada website masing-masing Stasiun BMKG terdekat (Meteorologi, Klimatologi serta Geofisika). Untuk wilayah Kalimantan Timur, Khususnya Balikpapan dan sekitarnya informasi cuaca ter-update dapat dilihat melalui website kami di www.bmkgbalikpapan.id, twitter di @bmkg_balikpapan maupun fanpage facebook kami di "BMKG Balikpapan". Sudah saatnya budaya "melek" cuaca kita bangkitkan, sebagai langkah kita dalam sikap antisipasi dan tanggap bencana untuk kehidupan yang lebih nyaman. Keep calm and update your weather information. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved