TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Oasis itu Bernama Pancasila

Tahun 2017 merupakan tahun dimana Pancasila kembali menjadi viral, (meminjam istilah kekinian para ABG) setelah di tahun-tahun sebelumnya terjebak

Oasis itu Bernama Pancasila
Dok Kompas.com
Garuda Pancasila 

Tri Wahyuni
Analis Kebijakan PKP2A III LAN
triw728@gmail.com

Tahun 2017 merupakan tahun dimana Pancasila kembali menjadi viral, (meminjam istilah kekinian para ABG) setelah di tahun-tahun sebelumnya terjebak ke dalam kesunyian pemberitaan dan pengamalannya.
Begitu 'heningnya' atas pemberitaan dan pengenalan pancasila selama ini, membuat sebagian besar dari kita (mungkin hampir semuanya) yang belum mengetahui bahwa dasar negara kita, Pancasila lahir pada tanggal 1 di bulan juni. M
asyarakat baru mengetahui, ketika Presiden Joko Widodo, melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, telah menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila (Kompas, 26 mei 2017). Dengan penetapan tanggal lahir tersebut, maka bertambah lagi hari yang menyenangkan, yakni hari libur nasional disetiap tanggal 1 Juni. Sebagian orang tentu senang dengan adanya tambahan hari libur tersebut, tidak terkecuali saya, karena mulai saat ini saya tidak perlu lagi terburu-buru berangkat kerja (kecuali mengikuti upacara) di tanggal yang sama dimana saya di lahirkan.
Dengan penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir pancasila, peringatan upacara dilakukan (khusus bagi para Aparatur Sipil Negara), pun terkait pemberitaan tentang pancasila juga begitu ramai berseliweran di media massa, baik cetak maupun elektronik.
Slogan Pancasila adalah saya banyak 'diminati' dengan ditempelkannya tulisan artistik tersebut bersama foto pribadi. Dari gambar tersebut yang bersangkutan seakan ingin mengatakan bahwa saya Pancasilais, saya penganut Pancasila, saya cinta Pancasila dan saya akan menjalankan Pancasila. Sungguh sebuah perubahan yang menggembirakan atas pengenalan kembali dari dasar negara kita.
Masih teringat dalam ingatan kita bagaimana pancasila 'sempat dilupakan' oleh sebagian dari kita. Jangankan mencoba mengkaji dan menjalankan Pancasila, mengingatkan diri sendiri dan lingkungan tantang sila dan butir-butir di dalamnya sudah banyak tidak dilakukan di sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, apalagi di masyarakat. Betapa banyak 'kelucuhan-kelucuhan yang tragis dan memprihatinkan' dimana seorang anak sekolah dasar maupun menengah bahkan yang dewasa tidak hafal dengan sila-sila dari Pancasila.
Jika kondisinya demikian, apakah masih bisa berkelit bahwa tidak masalah Pancasila tidak kami hafal sila -silanya, tapi kami sudah menjalankannya. Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bisakah kita mengamalkan suatu nilai tanpa kita tahu apa nilai yang akan kita amalkan?
Pancasila adalah hasil ekstraksi dari pemikiran, budaya, dan komitmen bangsa Indonesia. Kelima sila dan 45 butir yang ada di dalamnya telah disepakati bersama sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.
Ketika Pancasila ditetapkan, maka sejak saat itu Pancasila akan menjadi dasar bernegara dan sumber dari segala hukum yang ada di Indonesia. Perilaku bangsa Indonesia adalah perilaku yang berdasar pada pancasila, Penyelenggaraan pemerintahan harus mengacu pada nilai pancasila, membuat peraturan juga tidak boleh lepas dari nilai-nilai luhur pancasila. Sebagai refleksi kita selanjutnya, sudahkah bangsa Indonesia menjadikan pancasila sebagai pedoman hidup di segala aspek kehidupanya?
Jika jawabannya sudah, tentu bangsa Indonesia sudah hidup di dalam kedamaian. Nilai-nilai yang terdapat di lima sila membuat manusia Indonesia telah sempurna dari aspek ketuhannya, kemanusiaannya, kenasionalannya, kematangan berpikirnya, serta keperdulian dengan yang lainnya.
Sayangnya, Kondisi sosial masyarakat Indonesia akhir-akhir ini cukup membuat shock kita semua. Masyarakat Indonesia yang mempunyai nilai luhur bernama pancasila seperti hidup tanpa pegangan.
Kondisi degradasi mental hampir merata disemua sagmnen, mulai manusia muda hingga dewasa.Miris, itulah kata yang tepat terhadap berbagai fenomena kekerasan di negeri kita. kenakalan remaja saat ini merupakan bagian dari kontributor pemasalahan sosial.
Beberapa kasus permasalahan remaja hampir menjangkiti di hampir sebagian kota besar di negeri ini. Di Jakarta sebagai pusat Ibukota, data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta mencatat bahwa pada 2009 terdapat 0,08 persen atau 1.318 dari 1.647.835 siswa SD, SMP, dan SMA di DKI Jakarta terlibat tawuran, dan angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya (Sosio Informa Vol.1 No.02, Mei -Agustus, Tahun 2015).
Demikian juga di Kota Surabaya, data statistik data kenakalan remaja mengalami peningkatan jika dibanding tahun lalu sebanyak 675 kasus (bisnis surabaya.com, 2016). Tidak hanya masalah kenakalan remaja saja, lembaga pendidikan, juga tidak terlepas dari masalah, Sebanyak 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka ini berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurut survei International Center for Research on Women (ICRW). Angka kasus kekerasan di sekolah di Indonesia ini lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen). Sungguh angka yang membuat ironi bagi kita semua sebagai negara yang terkenal menjujung tinggi nilai moral bangsa ( republika.co.id, 22 Februari 2017).
Sementara terkait konflik sosial, Penelitian lembaga studi Center of Strategic and International Studies di tahun 2012 menunjukkan toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. Dalam survei CSIS, menunjukkan kecenderungan bahwa intoleransi ada pada kelompok masyarakat dalam semua kategori pendidikan. Sekitar 20 persen masyarakat berpendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas."Banyak yang beranggapan semakin berpendidikan seseorang, akan semakin toleran dia. Nyatanya tidak," kata Philips (Kepala Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS, Philips Vermonte). Tingkat pendidikan, Philips melanjutkan, ternyata tidak banyak mempengaruhi atau menumbuhkan toleransi beragama. Menurut Philips, hal ini sangat kontradiktif dengan masyarakat yang mengaku demokratis tapi tidak dapat mewujudkan nilai-nilai demokrasi dan menghargai perbedaan. "Ini batu sandungan bagi Indonesia yang sedang berusaha menjaga kemajemukannya, "(Tempo.Co, 2012).
Dari fakta sosial tersebut dapat kita simpulkan bahwa, pembelajaran terhadap nilai moral jauh lebih penting untuk membangun struktur masyarakat yang kuat. Pendidikan bagus yang tidak diiringi dengan nilai-nilai luhur sebagaimana terdapat dalam Pancasila hanya akan menjauhkan manusia Indonesia dari kehidupan yang benar. Kehidupan yang benar, yang sudah kita dapatkan buktinya dari berbagai nilai integrasi ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kemusyawaratan, dan keadilan.
Perjalanan pancasila dalam menggawang kehidupan bangsa Indonesia memang tidak selalu dalam satu warna dalam penerapannya. Ketika masa lahirnya pancasila, pancasila benar-benar menjadi pedoman hidup sebagai hasil pegangan yang telah disepakati bersama. Walau terdapat beberapa kerikil yang menghalau perjalanan (pembrontakan) untuk menggulingkan pancasila. Namun akhirnya, sebagai hasil kesepakatan bangsa, Pancasila mampu bertahan.
Memasuki masa orde baru, pancasila disinyalir 'terkooptasi' dalam bayang-bayang sang penguasa. Pancasila dalam masa ini dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan. Jika ada perilaku yang dianggap tidak membuat perkenan sang penguasa, maka pancasila akan 'mengeksekusi' melalui tuduhan sang penguasa dengan memberikan embel-embel pelanggaran terhadap pancasila sebagai tuduhannya.
Kini, di era kebebasan yang diiringi dengan sifat kritis masyarakat dalam kehidupan bernegara, konsep menerapkan pancasila secara dogmatis sudah tidak relevan. Namun demikian, meninggalkan pancasila dalam setiap perjalanan bangsa Indonesia lebih tidak relevan. Fakta telah membuktikan bagaimana chaos terjadi ketika nilai-nilai luhur Pancasila tidak dapat terimplemtasikan.Oleh karenanya, diperlukan upaya masif yang smooth dan smart tentang bagaimana mengenalkan dan menumbuhkan nilai-nilai Pancasila ke dalam sanubari setiap anak bangsa. Proses pencarian selalu berujung kepada kesadaran, kesadaran yang muncul dari berbagai pengalaman dan perunungan. Semoga bangsa Indonesia telah memperoleh kesadaran dari berbagai pengalaman perjalanan bangsanya, bahwa nilai-nilai Pancasila adalah nilai luhur yang tak terbantahkan dan up-date di segala jaman, sebagaimana pepatah mengatakan ' tak lekang oleh jaman, tak lapuk oleh waktu' (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help