TribunKaltim/

Tak Dapat Ribut, Dapat pun Ribut. Ini Risikonya Jika Pembagian PI Blok Mahakam Tak Selesai

"Kalau ribut, cukup ributnya sampai di Gubernur dan Bupati saja. Jangan sampai ke Pusat," kata Cody, sapaan Hairul Anwar.

Tak Dapat Ribut, Dapat pun Ribut. Ini Risikonya Jika Pembagian PI Blok Mahakam Tak Selesai
TRIBUN KALTIM / ARIF FADILLAH
Salah satu sumur di blok Mahakam yang terdapat di lapangan SPU. 

Laporan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto 

TRIBUNKALTIM.Co, SAMARINDA - Ribut-ribut soal pembagian Participating Interest (PI) 10 persen, antara Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar), diharapkan tak berlanjut di tingkat Pemerintah Pusat. 

Hal ini diungkapkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul), Hairul Anwar. "Kalau ribut, cukup ributnya sampai di Gubernur dan Bupati saja. Jangan sampai ke Pusat," kata Cody, sapaan Hairul Anwar.

Menurut Cody, persoalan bakal kian runyam jika sampai ke level Pemerintah Pusat. Jangan sampai, katanya, Kaltim disanksi dan justru tak mendapat apapun dari polemik rebutan PI 10 persen ini. 

"Kalau bicara keadilan, sampai kapanpun tidak akan selesai pembagian PI ini. Bagi Pemprov, dapat lebih besar itu wajar, karena harus berbagi dengan 9 Kabupaten/Kota lain. Bagi Kukar, dapat kecil juga tak adil, karena mereka daerah penghasil. Jadi, tidak akan nyambung," urai Cody.

Soal rumus pembagian PI antara Pemprov dan Kukar yang diatur dalam Peraturan Menteri ESDM (Permen) 37 Tahun 2016, turut dikomentari Cody. Dalam Permen tersebut, pembagian di dasarkan atas lokasi sumur. Bukan pada produksi di tiap sumur migas.

"Kan Permen itu melihatnya lokasi sumur banyak di mana? Empat mil ke atas (Pemprov) atau empat mil ke bawah (Kukar). Kalau menurut saya, harusnya didasarkan produksi tiap sumur. Mana yang lebih banyak produksinya? Pemprov atau Kukar," kata Cody. 

Yang harus dilakukan saat ini, menurut Cody, yakni memerjelas skema PI 10 persen tersebut. Berapa yang akan diterima Kaltim dan, apakah Kaltim terlibat dalam pengelolaannya.

"Jangan euforia dulu. Dapatnya berapa? Apa cuma nerimo (terima) saja dari Pertamina tanpa ikut mengelola. Atau bagaimana," katanya. 

Risiko

Halaman
123
Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help