TribunKaltim/

Kisah Pilu 2 Mantan Napi Bom Bali I, Gara-gara Cari Pekerjaan untuk Ali Imron Mereka Masuk Penjara

M Yunus, mantan narapidana bom Bali mengawali kisah hingga dirinya ditangkap tim Densus 88.

Kisah Pilu 2 Mantan Napi Bom Bali I, Gara-gara Cari Pekerjaan untuk Ali Imron Mereka Masuk Penjara
TRIBUN KALTIM/ANJAS PRATAMA
Dialog pencegahan radikalisme yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltim di Hotel Bumi Senyiur Samarinda, Kamis (15/6/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - M Yunus, mantan narapidana bom Bali mengawali kisah hingga dirinya ditangkap tim Densus 88.

"Ali Imron datang ke rumah saya di Samarinda. Dia bilang ingin cari kerjaan di tambak. Saya pun membantu mencarikan pekerjaan. Itu saja. Tetapi, tiba-tiba tertangkap, dan saya juga ikut tertangkap. Itu saja keterlibatannya. Dianggap menyembunyikan," tutur Yunus.

Cerita pilu mantan napi Bom Bali 1 tersebut disampaikan di depan peserta Dialog Pencegahan Radikalisme yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltim di Hotel Bumi Senyiur Samarinda, Kamis (15/6/2017).

Kali ini, mengambil tema seni, sebagai cara penangkal radikalisme di masyarakat. Dua seniman nasional, Aan Mansyur, serta Ahda Imran ikut dibawa dalam kegiatan tersebut.

Bagaimana pengalaman bertemu langsung dengan terorisme di Kaltim, Tribun mencoba menelusuri dari dua orang yang pernah berhubungan langsung dengan Ali Imron, terpidana seumur hidup Bom Bali I.

"Ali Imron itu mantan guru saya di Pesantren Al Islam, Lamongan. Saat itu, saya tidak tahu, jika Pak Ali Imron ikut dalam aksi terorisme. Setelah kejadian, kok foto-fotonya mulai banyak tersebar di media. Bertanya dalam hati, kok bisa seperti itu," ujar Samsul Hadi, mantan murid Ali Imron yang kini menetap di Kaltim.

Telanjur ikut membantu Ali Imron saat berada di Kaltim, Samsul Hadi serta Muhammad Yunus terpaksa menanggung akibatnya.

Hukuman penjara harus dirasakan keduanya, karena dianggap ikut membantu pelarian Ali Imron.

"Kalau Pak Yunus dianggap menyembunyikan, dihukum sekitar 7 tahun penjara di LP Bali, kemudian dipindahkan ke LP Balikpapan. Sementara saya, karena dianggap membawa Ali Imron dari Penajam ke Samarinda dihukum 6 tahun," kata Samsul Hadi.

Belajar dari pengalaman itulah, keduanya ikut memberikan saran, terkait kewaspadaan masuknya paham radikalisme di Kaltim.

Halaman
12
Penulis: Anjas Pratama
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help