TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Konsep Islam di Jepang

Mengenai konsep waktu, Islam mengajarkan agar tidak membuang waktu dengan hal yang percuma meski hanya satu menit.

Konsep Islam di Jepang
washington post
Ilustrasi Okinoshima adalah sebuah pulau di barat daya Jepang 

Rezhi Ade Indra Pratama
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014, Universitas Mulawarman
rezhi117@gmail.com

Minggu, 23 April 2017, menjadi hari yang bersejarah bagi saya. Bagaimana tidak? Salah satu impian saya untuk bisa pergi ke luar negeri akhirnya bisa tercapai. Jepang menjadi negara impian saya selama ini. Jepang dikenal dengan etos kerjanya yang tinggi, disiplin, budaya leluhur yang masih terjaga, kebersihannya, sikap saling menghargai orang lain dan banyak lagi hal-hal yang membuat saya kagum dengan negara ini. Saya ke Jepang dalam rangka mengikuti program internasional dengan tema "International Certification Indonesia-Japan Developmental Culture Exchange 2017.
Banyak pengalaman dan nilai-nilai berharga yang bisa dibawa pulang dari negara matahari terbit ini, salah satu nilai yang bisa saya petik adalah nilai ke-Islamannya. "Loh, kok bisa? Bukannya Jepang mayoritasnya bukan muslim dan bukan pemeluk agama Islam ya? Bahkan cenderung tidak banyak yang menganut agama di sana. Kok bisa ada nilai ke-Islaman di kehidupan mereka?".
Kita ketahui, bahwa negara kita ini merupakan negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2016 dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 207 juta jiwa. Ya, masyarakat Indonesia mayoritas adalah muslim dan pemeluk agama Islam. Tak heran di Indonesia kita bisa melihat banyak sekali masjid-masjid yang berdiri di setiap jalan yang kita lewati. Bahkan bukan hanya ada di perkotaan, tapi di desa atau kampung pun kita bisa dengan mudah menemukan masjid atau mushola untuk beribadah.
Berbeda halnya ketika kita datang ke negara yang bukan mayoritas muslim. Contohnya saja mungkin negara Jepang. Di negara matahari terbit ini, sangat sulit sekali menemukan masjid. Bahkan di satu daerah mungkin hanya terdapat satu sampai dua masjid saja. Itu pun kita harus mengaksesnya dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
Jepang memang tidak mengenal konsep agama, karena sebagian besar masyarakatnya atheis atau tidak beragama. Meski disebutkan bahwa agama tradisional Jepang adalah Shinto, agama tersebut sudah tidak dianut lagi. Saat ini Shinto tak lebih dari warisan leluhur sebagai bagian dari sejarah Jepang yang tidak lagi membudaya.
Pada dasarnya, masyarakat Jepang percaya akan Tuhan, tetapi mereka tidak menganut agama-agamanya. Uniknya, di Jepang mereka melakukan beberapa kegiatan dengan menerapkan 3 nilai agama yang berbeda. Secara umum kita dapat menemukan fakta bahwa cukup banyak orang Jepang yang merayakan kelahiran anak mereka dengan cara Shinto, menikah dengan cara Kristen, dan apabila mereka meninggal, upacara ala Buddha lah yang mereka pilih.
Saya pernah mendatangi sebuah kajian di kampus tentang nilai-nilai keislaman. Salah satu pemateri mengatakan, "jika negara Jepang itu adalah pemeluk agama Islam, niscaya mereka duluan yang akan masuk ke surga", kurang lebih seperti itu perkataannya.
Dia mengatakan bahwa Jepang walaupun mayoritas masyarakatnya tidak menganut agama, tapi mereka menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupannya. Nilai-nilai Islam itu antara lain, kebersihan, kedispilinan, ketertiban, memberi salam dan tepat waktu. Ketika baru tiba di Tokyo, saya langsung mengagumi suasananya yang nyaman karena setiap sudut kota terlihat bersih. Bahkan ketika di bandara Haneda, tempat pertama kali saya menginjakkan kaki di Jepang, saya melihat petugas kebersihannya dengan etos kerja yang tinggi membersihkan lantai bandara hampir selama 2 jam bolak-balik di tempat itu saja. Padahal jam menunjukkan jam 3 pagi, tapi petugas kebersihan itu sudah semangat menjalankan pekerjaannya. Tak ada sampah berceceran..
Saya jadi teringat konsep kebersihan dalam Islam. "Kebersihan sebagian dari iman", adalah kata-kata yang sering kita baca atau dengar ketika berada di Indonesia. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersuci dan bersih baik lahiriah maupun batiniah. Tapi ternyata di Jepang secara lahiriah sudah diterapkan konsep Islam tersebut. Walaupun iman yang dimaksud di sini adalah percaya dengan Allah dan masuk dalam batiniah, tetapi secara lahiriah Jepang sudah menerapkan konsep Islam ini.
Dalam hal kedisiplinan, masyarakat Jepang juga sudah menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Setiap aturan yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan selalu ditaati dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat.
Tak ada yang berani melanggar peraturan tersebut meski tidak dalam pengawasan petugas yang berwajib dari pemerintah atau perusahaan. Dalam Islam, setiap umatnya dituntut untuk disiplin dalam menerapkan hukum-hukum Islam yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulullah SAW.
Kedisiplinan ini seperti sudah membudaya sehingga melahirkan ketertiban dalam kehidupan masyarakat Jepang.
Perihal lalu lintas misalnya, tak ada yang berani menerobos lampu merah meski dari arah lain sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas. Ini saya rasakan sendiri ketika berada di depan lampu merah saat hendak menyebrang melewati zebra cross. Suasana jalannya sepi, tidak ada kendaraan yang lewat, bisa saja orang-orang di situ menyebrang dengan aman. Tapi tidak satu pun yang menyebrang sebelum lampu hijau benar-benar menyala.
Mengenai konsep waktu, Islam mengajarkan agar tidak membuang waktu dengan hal yang percuma meski hanya satu menit. Hal inipun sudah diterapkan oleh masyarakat Jepang dengan menghargai waktu. Dalam bidang pekerjaan, jika ada pekerja Jepang yang datang terlambat walau satu menit, maka ia lebih baik pulang. Di samping merasa malu, memang semua perusahaan di Jepang menerapkan kebijakan tidak membolehkan masuk karyawannya yang datang terlambat. Pengalaman lain saya alami ketika di Tokyo. Saat itu saya membuat janji dengan teman Facebook saya dari Jepang untuk bertemu di Sensoji Temple pada jam 14.00. Tapi 10 menit sebelum jam 14.00, ternyata teman Jepang saya itu sudah berada di Sensoji Temple dengan pakaian yang bersih dan rapi.
Di Jepang, kata-kata "arigatou" (terima kasih), "sumimasen" (maaf/permisi), ucapan selamat pagi, selamat siang dan salam lainnya begitu berarti di sana. Tidak lupa membungkukkan badan sebagai tanda menghormati lawan bicara, baik itu yang muda maupun yang tua. Suasana kekeluargaan terasa hangat selama saya di Jepang.
Jepang dikenal dengan negara yang paling aman di dunia. Tingkat kriminalitas sangat minim di sana. Bahkan jika barang kita hilang di Jepang, hampir dipastikan 100% bisa kembali ke pemiliknya. Di Jepang, tampaknya ada semacam budaya untuk menyerahkan benda hilang yang ditemukan ke kantor polisi terdekat.
Sebuah fakta menakjubkan mencatat bahwa pada tahun 2014 lalu, uang tunai hilang yang diserahkan ke kantor polisi di sekitar Tokyo mencapai total lebih dari 3,3 miliar yen atau pada saat tulisan ini dibuat setara dengan 356 miliar rupiah (belum termasuk harta benda bukan uang). Sebuah hal yang hampir mustahil ditemukan di negara lain.
Saya pernah meninggalkan barang bawaan saya di stasiun kereta pada saat itu. Saya pun kembali ke loket tempat sebelumnya saya bertanya dan menanyakan barang saya itu. Dan bisa ditebak, barang saya masih ada di sana dan dijaga dengan baik. Bukan hanya itu saja, saat saya berada di bandara saya sengaja meninggalkan HP saya di tempat charge dan saya tinggal ke toilet dan keliling bandara sebentar. Sampainya di tempat charge itu, HP saya masih berada di sana dan dengan posisi yang sama. Betapa aman dan nyamannya menaruh barang di Jepang ini.
Sekarang saya benar-benar heran dengan keadaan dunia ini. Saya dibesarkan dan disekolahkan dengan pendidikan berdasarkan agama Islam. Lingkungan juga penuh nuansa agama. Tapi jujur, ketika berada di Jepang, suasana kekeluargaan dan tenggang rasa itu benar-benar terajarkan dengan baik. Melihat Masyarakat di Tokyo, Jepang pada saat itu, saya diajarkan bagaimana cara bersyukur kepada orang lain. Pentingnya kata-kata "arigatou", "sumimasen" atau ucapan selamat kepada tetangga atau teman benar-benar hangat di sini.
Jadi setelah melihat masyarakat di sini saya tersentak "loh, apa gunanya agama kalau masyarakat yang tidak beragama bisa rukun seperti ini?". Saya yakin 100% bukan ajaran agama saya yang salah, tapi saya melihat orang tidak beragama di sini mempraktekkan konsep-konsep dasar agama yang saya pelajari selama sekolah dulu. Jadi apakah kita cuma tahu konsep dasar agama saja tanpa mempraktekkannya? Atau kita yang selama ini salah dalam cara mempraktekkannya? Atau kita hanya setengah-setengah dalam mempraktek dan menganut agamanya?
Ya, meskipun saya bilang masyarakat Jepang itu baik, bukan berarti 100% baik. Ada juga beberapa sifat yang saya rasa tidak baik dan juga masyarakat kita tidak semuanya buruk. Intinya saya benar-benar belajar pentingnya rasa syukur dan bagaimana menghormati orang lain di sini daripada di sekolah maupun kampus.
Menjadi minoritas di negeri atheis memang tidak menyenangkan karena banyak keterbatasan dalam melakukan ibadah. Maka, saya sangat terharu melihat semangat kaum muslim di Jepang, baik muslim asal Indonesia, asli Jepang maupun dari negara lain dalam menjalankan ibadah. Konsep Islam yang ternyata sudah diterapkan oleh masyarakat Jepang ini memberi saya inspirasi dan sekaligus membuat saya iri. Saya iri dengan negara Jepang yang mayoritasnya tidak beragama, tetapi nilai-nilai dan konsep Islam bisa tumbuh di kehidupan mereka. Sedangkan ketika saya berada di negeri sendiri yang menjadi penduduk muslim terbesar di dunia, saya masih belum bisa merasakan semua nilai-nilai Islam di sini. Bukan ingin membandingkan atau menjelekkan negara sendiri, tapi di sini ketika berada di rumah ibadah sekali pun, kita tidak merasa nyaman karena banyak kasus kehilangan barang dan yang lainnya. Sendal pun hilang ketika kita berada di masjid. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help