TribunKaltim/

Ketatnya Seleksi di Jurnal Internasional, Dosen Fahutan Unmul Ini Sempat 8 Kali Karyanya Ditolak

Memasukkan karya jurnal internasional ke penerbit-penerbit internasional, juga disebut tak mudah. "Oh kadang bisa tak lolos.

Ketatnya Seleksi di Jurnal Internasional, Dosen Fahutan Unmul Ini Sempat 8 Kali Karyanya Ditolak
Unmul
Ilustrasi. Seminar internasional semacam ini merupakan salah satu cara untuk mengasah kapasitas keilmuan para dosen dengan pakar-pakar tingkatan dunia. Seminar yang digelar di Samarinda ini digelar saat Fahutan Unmul melakukan MoU dengan Universitas Freiburg Jerman. 

Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Anjas Pratama

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Upaya untuk bisa menerbitkan jurnal internasional juga disampaikan salah satu dosen Fakultas Kehutanan, Rustam Fahmy, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (17/6/2017).

"Awal mula minat menulis itu dimulai dengan menulis ke majalan-majalah terkait satwa liar. Pernah pula menulis di Kompas, terkait badak. Kalau untuk pertama kali menulis jurnal internasional justru tak sengaja. Terjadi saat menemani peneliti-peneliti asing yang datang ke Kaltim. Itu awalnya. Jurnal internasional saat itu terkait kelelawar di Sungai Wain," ujar Rustam.

Memasukkan karya jurnal internasional ke penerbit-penerbit internasional, juga disebut tak mudah.

"Oh kadang bisa tak lolos. Kalau di jurnal bereputasi tinggi, paper itu pasti bolak-balik. Dikembalikan untuk direview ulang. Pengalaman saya, bagian tersulit itu jika kita menulis sesuatu yang spesifik, misalnya tentang small karnivor, yakni hewan pemakan tetapi ukurannya termasuk binatang kecil. Kenapa bisa paper dibolak-balik (direview ulang), karena mereka yang melakukan review adalah orang yang sudah ahli. Pasti reviewer akan tanya, kenapa begini, kenapa seperti itu, dan lainnya," ujarnya.

Hal itu pun terbukti dengan harus 8 kali Rustam melakukan review ulang jurnal papernya tersebut. "Saya sampai 8 kali mereview bolak balik saat menulis tentang Sunda Sting-badger Mydaus Javanensis. Itu semacan karnivora kecil. Proses 8 kali review ulang tersebut dilakukan dalam kurun waktu 2 bulan Jurnal saya itu, sekaligus membantah teori-teori sebelumnya di jenis karnivor tersebut.

Berarti ini, membantah teori-teori internasional yang sebelumnya sudah ada. Dulu, teori yang ada, yakni jenis ini hanya ada di dataran tinggi, dan jauh dari sungai. Tetapi, dengan adanya jurnal yang saya buat, jenis ini juga bisa ditemukan di area sungai," ujarnya.

Berangkat dari ketertarikan untuk menulis sesuatu yang bisa diakses oleh masyarakat tersebut, membuat Rustam getol untuk terus hasilkan jurnal internasional.

"Sampai saat ini, jurnal internasional saya yang terindeks scopus sudah ada 15 item. Itu belum ditambah untuk jurnal-jurnal lain yang diluar scopus. 15 Jurnal internasional itu hanya kalah dari dua orang Dosen di Fahutan, yakni Pak Enos dan Pak Irawan," katanya.

Meski sulit, ada faktor yang bisa mempermudah terbitnya jurnal internasional. Hal itu, adalah produk dari jurnal itu sendiri. "Tingkat kesulitan agar bisa dipublish juga tergantung dari produk

Halaman
12
Penulis: Anjas Pratama
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help