TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Puasa, Pemaknaan dan Fungsi Sosialnya

Sudah ribuan kali ibadah puasa berulang. Sudah berapa kali pula kita mengalaminya. Adakah yang benar-benar kita dapat dari berpuasa?

Puasa, Pemaknaan dan Fungsi Sosialnya
(Warta Kota/Alex Suban)
Warga mengikuti buka puasa bersama pada hari pertama bulan Ramadan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (27/5/2017). Masakan Padang yang terdiri dari oseng-oseng kacang panjang, sambal hijau, tempe goreng pedas, telur rebus kuah serta nasi putih menjadi menu buka puasa. 

Ahada Ramadhana
Content writer berdomisili di Yogyakarta
rahada@ymail.com

Sudah ribuan kali ibadah puasa berulang. Sudah berapa kali pula kita mengalaminya. Adakah yang benar-benar kita dapat dari berpuasa? Pertanyaan ini penting untuk diajukan kepada diri kita sendiri masing-masing untuk mengukur kualitas praktik salah satu rukun Islam ini.
Ibadah bukan sekadar ritual, tapi perlu pemaknaan. Kita perlu menyingkap dimensi lain karena sesungguhnya puasa bukan saja ritual yang bersifat individual.
Mengutip Ahmad Rizky Mardhatillah Umar dalam buku Puasa dan Transformasi Sosial, Ramadhan adalah bulan yang pas untuk melakukan kritik diri sebagai umat. Islam tak sekadar menuntun pribadi untuk berfokus pada akhirat sehingga acuh pada realitas sosial. Puasa punya dimensi sosial sehingga bisa menjadi medium kritik sebagai salah satu basis kekuatan untuk memberikan perubahan. Puasa mampu dimaknai sejalan dengan semangat agama Islam yang diterapkan oleh para nabi, yaitu untuk membela kaum miskin dan tertindas.
Puasa harus menumbuhkan kesadaran kelas serta kesadaran untuk membela mereka yang terpinggirkan oleh struktur modal dan kekuasaan. Berpuasa secara menyeluruh berarti menahan diri dari hal-hal yang merusak kemurnian moral. Berpuasa dari godaan uang dan kekuasaan, juga menahan diri dari perilaku menindas orang lain. Secara ringkas, puasa mampu mengendalikan hawa nafsu.
Kita tahu, setiap saat nafsu makan muncul. Dan makan adalah salah satu penopang nafsu lainnya. Puasa-menahan makan dan minum-adalah simbolisasi perlawanan terhadap hawa nafsu. Dalam konteks sosial, puasa adalah sarana mengendalikan nafsu mendominasi atau berkuasa yang hadir secara alamiah pada diri manusia. Nietzsche membahasakannya the will to power, yaitu keinginan mengatur sesuatu sesuai keinginan sendiri yang sangat berpotensi menjadi pintu masuk penindasan. Menguasai orang lain tentu tak pernah diajarkan di agama manapun, termasuk Islam. Manusia diposisikan egaliter, yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Ini sesuai pesan Allah dalam surah al-Hujurat: (10).
Sedangkan zakat yang tak bisa dilepaskan dari Ramadhan adalah manifestasi dari keadilan ekonomi. Secara jangka panjang, dorongan agama melalui zakat ini mampu memberantas kemiskinan. Praktik penumpukan modal di segelintir elit harus dilarang, itulah sebabnya kita diajarkan untuk membayar zakat fitrah untuk mendistribusikan ekonomi secara adil.
Ada lagi i'tikaf yang dapat menjadi semangat spiritualitas sosial. I'tikaf mengajak kita kembali memakmurkan masjid, dengan meninggalkan segala yang bersifat materialistis-duniawi. I'tikaf dapat dimaknai sebagai ajakan kembali menjadi seorang abdullah yang mementingkan orientasi akhirat. Kita menuju masjid sebagai seorang hamba Allah, berkumpul bersama jamaah, menanggalkan segala atribut individu seperti kekuasaan, kekayaan, dan lainnya. Masjid menjadi modal sosial, dimana umat bisa saling mengenal satu sama lain.
Maka dari itu menurut Umar perlu adanya penggeseran makna i'tikaf dari pemupuk keshalihan individu menjadi keshalihan sosial. Misalnya bagi seorang intelek, apakah ilmunya sejauh ini telah tersentuh oleh kepentingan modal atau kekuasaan. Al-Quran memiliki nama lain Al-Bayan (penerang). Dalam konteks peradaban, Al-Quran bisa menjadi sumber penerang bagi umat atas realitas sosial karena kitab ini dapat diandalkan sebagai basis ilmu pengetahuan. Misalnya Allah membenci orang-orang yang dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai zhaharal fasad (berbuat kerusakan). Dalam konteks saat ini, korupsi adalah problem penyebab kerusakan yang sangat perlu untuk dilawan.
Allah telah menerakan definisi taqwa dalam persepektif sosial lewat Al-Quran surah Al-Baqarah: (177). Yaitu yang tak hanya meyakini rukun iman, tapi juga memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, serta mereka yang butuh ditolong. Lebih dari itu, taqwa juga dicirikan dengan orang-orang yang menepati janji serta selalu sabar dalam kesempitan dan penderitaan.
Pada akhirnya, puasa dapat dimaknai sebagai pelatihan mengendalikan keinginan-keinginan duniawi yang bersifat pribadi. Puasa mengajak kita untuk menempatkan diri sebagai bagian dari pengamal nilai-nilai untuk menjaga kehidupan yang madani. Yang juga perlu ditanyakan pada diri kita adalah: Adakah peningkatan orientasi kita pada kehidupan akhirat pasca menjalani puasa? (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help