TribunKaltim/

Longsor

Usai Banjir, Warga Samarinda Cemas Menanti Longsor

Longsor yang cukup parah terjadi di jalan P Suryanata, gang Tinggiran, RT 59, terdapat satu rumah yang ambruk tertimbun material longsor.

Usai Banjir, Warga Samarinda Cemas Menanti Longsor
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Satu bangunan rumah ambruk akibat longsor yang terjadi di Jalan P Suryanata, gang Tinggiran, RT 59, Selasa (20/6/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hujan deras yang melanda kota Tepian (sebutan Samarinda) dalam tiga hari belakangan ini, mengakibatkan sejumlah musibah yang menimpa warga.

Selain banjir yang hampir menggenangi seluruh kawasan Samarinda, musibah tanah longsor juga menghantui warga, terlebih yang tinggal di kawasan perbukitan maupun lereng.

Tercatat, sejak Minggu (18/6/2017) hingga Selasa (20/6/2017) hari ini, terdapat sedikitnya 13 titik (data sementara) longsor, diantaranya 2 titik di jalan P Suryanata, 5 titik di jalan Markisa, 2 titik di jalan Ir Suwandi, 2 titik di Jalan AW Syahranie, Jalan Ir Juanda, dan Jalan Sentosa.

Hingga saat ini, BPBD Samarinda bersama unsur SAR lainnya, tengah melakukan pendataan terhadap titik longsor.

Longsor yang cukup parah terjadi di jalan P Suryanata, gang Tinggiran, RT 59, terdapat satu rumah yang ambruk tertimbun material longsor, yang mengakibatkan dua rumah lainnya terkena dampak.

Bahkan, terdapat sedikitnya enam rumah yang berada di sekitar longsor, telah dikosongkan penghuninya.

"Kita imbau kepada warga untuk mengungsi terlebih dahulu, karena pergerakan tanah di titik longsor jalan P Suryanata ini masih terus bergerak," tutur Kepala BPBD Kota Samarinda, Endang Liansyah, Selasa (20/6/2017).

Lanjut dia menjelaskan, saat ini pihaknya masih mencari cara untuk melakukan pembongkaran terhadap rumah yang ambruk, agar material longsor tidak membesar ke bangunan lainnya.

"Kita tunggu tanah kering dulu, baru kita akan lakukan upaya pembongkaran. Saat ini warga harus meninggalkan rumah dulu," tegasnya.

Dia menilai, sekitar 60 persen kawasan Samarinda, merupakan daerah rawan longsor.

Maka dari itu, dirinya meminta warga untuk tidak membangun rumah di kawasan lereng ataupun perbukitan, serta tidak mengganti tanaman asli yang ada di daerah perbukitan.

"Kalau pun memang terpaksa bangun rumah di lawasa lereng, ya konsultasi dulu dengan pihak yang berwenang, tapi kalau bisa hindari membangun rumah di kawasan tebing," ucapnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help