TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Menahan Diri di Idul Fitri

Banyak orang yang justru lebih besar pasak daripada tiang. Dengan alasan Idul Fitri hanya satu tahun sekali dan (mungkin) ingin terlihat lebih "Wah"

Menahan Diri di Idul Fitri
TRIBUNKALTIM.CO/FACHMI RACHMAN
Ilustrasi 

Oleh : Fransiska
Pegiat Pendidikan dan Literasi
mimisiska84@gmail.com

DALAM hitungan hari lagi Bulan Syawal akan datang menggantikan Bulan Ramadhan. Berbagai persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri telah dilakukan oleh sebagian besar umat islam. Aneka panganan mulai direncanakan dan dibuat. Baju hari raya sudah dijahit atau dibeli. Rumah pun mulai dipercantik.
Namun di tengah euforianya menjelang Idul Fitri ada baiknya kita juga menyiapkan diri untuk bisa menahan diri kala bertemu keluarga, kerabat, tetangga dan sahabat di Idul Fitri. Apa saja wujud menahan diri yang musti kita selalu ingat dan amalkan?
1)Berlebih - lebihan
Banyak orang yang justru lebih besar pasak daripada tiang. Dengan alasan Idul Fitri hanya satu tahun sekali dan (mungkin) ingin terlihat lebih "Wah" daripada orang lain. Seluruh perhiasan emas yang dipunya akan digunakan semuanya bak toko emas berjalan. Baju baru untuk hari raya yang super mengilap dan lumayan harganya pun dibeli. Belum lagi untuk urusan makan berat dan kue, dekorasi rumah mulai dari korden baru atau kursi baru.
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan." (QS. Al Isro': 26-27).
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (qS. Al-Furqan: 67).
Bukanlah suatu kesalahan mengalokasikan dana yang kita punya untuk hal - hal tersebut. Namun akan lebih bijak apabila kita arif memplotkan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kebutuhan pun perlu dirunut mana yang termasuk kebutuhan prioritas.
Dilansir dari abufawaz.wordpress.com/2012/08/03/bersikap-sederhana-dalam-konsumsi-dan-berbelanja-di-bulan-ramadhan-dan-hari-raya/, Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud boros di kalangan ulama itu ada dua pendapat, yakni :
1. Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas.
2. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu 'Ubaidah berkata, "Mubadzdzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalah-gunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta." (Lihat Zaadul Masiir, V/ 27-28).
2)Lisan
Momen Idul Fitri dimana saat bertemu orang lain (meski tergolong kerabat) sebaiknya menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan yang sekiranya bsia membuat pihak lain kurang nyaman atau tersinggung, meski tujuan kita bertanya hanya sekadar basa - basi atau bahan canda saja. Bisa jadi omongan yang keluar dari mulut kita akan kita anggap biasa saja namun belum tentu bagi orang yang menerimanya.
Pertanyaan - pertanyaan yang cenderung akan membuat orang yang kita tanya menjadi kurang nyaman biasanya seperti ini? "Kapan lulus kuliahnya?" "Kerja dimana?" "Kapan mau nikah?"
"Lho, kok belum punya anak?" "Kok anaknya cuma satu, nambah lagi dong!"
"Enaknya sekarang sudah sukses, enggak merasakan jungkir balik kerja seperti aku"
Banyak hadits yang mengingatkan akan ancaman lisan yang tak terkendali,
“"Dosa yang paling sering terjadi pada Bani Adam, terkait dengan lisannya". (HR. Thabrani, Ibnu Abi Ad - Dunya, Al - Baihaqi).
""Bukankah seseorang tersungkur batang hidungnya di neraka disebabkan lisannya?" (HR> Tirmidzi dan Hakim).
""Tiada suatu pun yang berasal dari tubuh melainkan semuanya mengadu kepada Allah mengenai ketajaman lisannya." (HR. Al - Baihaqi).
""Apabila waktu pagi datang kepada manusia, maka semua anggota badannya tunduk kepada lisan dan anggota tubuh berkata, 'Bertakwalah kepada Allah terhadap diri kami, sesungguhnya kami ikut denganmu (lisan). Jika kamu lurus, maka kami juga lurus. Namun, jika kamu bengkok maka kami juga ikut bengkok." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
3)Lapar Mata
Di meja ruang tamu terhidang aneka kue warna - warni dan minuman yang membuat mata lapar, ingin mengonsumsi semuanya. Mungkin mata bisa lapar tetapi saluran pencernaan tidak bisa dimasukkan semuanya. Ada beberapa orang yang alergi atau tidak tahan terhadap suatu makanan dan minuman namun jika dipaksakan justru akan membuat sakit. Ingatlah masih ada tamu lain selain kita yang perlu disuguhi oleh tuan rumah.
"Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf 31).
"Tiada tempat paling buruk selain perut yang diisi oleh manusia. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan sekedar untuk menegakkan tulang iganya. Jika dia mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk pernapasan (udara)nya." (HR. Ath-Thobrani dan Ibnu Abi AD-Dunya)
4)Kekurangtulusan
Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), artinya manusia tidak bisa sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita akan selalu butuh orang lain. Sayangnya, dalam hubungan sosial tersebut acapkali terjadi pergesekan yang pada akhirnya dapat membuat hubungan menjadi kurang harmonis, renggang bahkan putus sama sekali.
Momen Idul Fitri menjadi ajang untuk saling meminta maaf dan memberi maaf. Tentunya dengan tulus. Terkadang disebabkan rasa sakit hati yang masih ada, seseorang bersalaman hanya sekadar bersalaman, kurang tulus dalam meminta dan memberi maaf.
Secara harfiah, Idul Fitri dapat disimpulkan adanya dua makna, yaitu :
1.Idul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
2.Idul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah.
Berbekal dari pemaknaan tersebut, izinkan saya menghaturkan permohonan maaf kepada para pembaca atas kata - kata yang kurang berkenan dalam berbagai artikel yang saya tulis. Terima kasih untuk Surat Harian Tribun Kaltim dan para pembaca setia Tribun Kaltim. Semoga kita menjadi insan yang lebih baik lagi, terutama dalam hal ibadah. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help