TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Keluarga , Internet dan Media Sosial

Penggunaan teknologi dan informasi mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk pengetahuan dan pola pikir.

Keluarga , Internet dan Media Sosial
(Forbes)
Ilustrasi 

Rizqi Elviah,S.ST
Statistisi Muda - Bidang Statistik Sosial
BPS Provinsi Kalimantan Timur
email : rizqie@bps.go.id

Keluarga, topik pembicaraan yang seakan tidak ada habisnya untuk diperbincangkan, bahkan seminar parenting menjamur dimana-mana. Akhir-akhir ini makin marak berita yang membuat khalayak terkaget, khususnya terkait dengan generasi muda. Ditambah dengan kekuatan media sosial yang membuat sebuah berita semakin menyebar dengan cepat. Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami-istri; atau suami-istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya; atau ibu dan anaknya. Berdasarkan definisi tersebut keluarga dapat terbentuk karena adanya pertalian darah maupun pertalian hukum (perkawinan, adopsi, dan sebagainya).
Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat. Namun perannya sangat besar pada pembentukan tatanan masyarakat secara keseluruhan. Mengutip dari laman http://uiupdate.ui.ac.id tanggal 29 Juni 2016 tentang Hari Keluarga Nasional 2016, menyebutkan bahwa "Pentingnya keluarga dalam pembangunan bangsa Indonesia sudah dirintis sejak awal kemerdekaan. Dalam perkembangannya, pada 29 Juni 1970 menjadi puncak dari perjuangan Keluarga Berencana (KB) untuk memperkuat dan memperluas program KB yang juga dikenal dengan Gerakan KB Nasional. Program KB berkembang secara pesat dan memberikan hasil nyata berupa peningkatan kesejahteraan keluarga kecil. Sebagai bentuk apresiasi dari keberhasilan program KB, setiap tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Harganas pertama kali dicanangkan pada tahun 1993 di Lampung oleh Presiden Soeharto. Sejak itu, Harganas diperingati setiap tahun dengan dipelopori oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)"
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, memperlihatkan sebanyak 44,72 persen perempuan di Kalimantan Timur melakukan perkawinan pertamanya pada usia 21 tahun atau lebih. Dengan kata lain, diantara seratus perempuan berstatus pernah kawin, 45 orang diantaranya melakukan perkawinan pertama pada usia 21 tahun atau lebih. Usia perkawinan pertama kaitannya dengan produktivitas melahirkan anak. Perempuan usia subur (usia 15-49 tahun) yang pernah kawin rata-rata melahirkan anak sebanyak 2-3 anak. Hal yang wajar karena masih sesuai dengan anjuran pemerintah.
Alat atau cara KB berguna untuk mengatur jarak kelahiran. Sesuai dengan UU no.52 Tahun 2009 dalam salah satu pasalnya menyebutkan bahwa pengaturan kehamilan adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.
Perempuan usia subur yang berstatus kawin dan sedang menggunakan alat/cara KB sebanyak 55 persen, dapat dikatakan di Kalimantan Timur hanya separuh dari perempuan usia subur yang sedang menggunakan alat/cara KB. Ragam alat KB yang digunakan sebagian besar adalah KB suntik dan pil, mencapai 83 persen. Hal ini berkaitan dengan kemudahan akses untuk mendapatkan kedua alat KB tersebut. Penggunaan alat KB lainnya seperti IUD/AKDR/spiral, steril, susuk, kondom, dan cara tradisional masing-masing dibawah sepuluh persen. Tempat mendapatkan alat KB tersebut umumnya diperoleh di praktek bidan/bidan desa/perawat dan juga di puskesmas/pustu/klinik maupun apotek/toko obat.
Kembali pada bahasan keluarga, dalam Undang-Undang nomor 52 tahun 2009 terkait dengan hak penduduk, diantaranya membesarkan, memelihara, merawat, mendidik, mengarahkan dan membimbing kehidupan anaknya termasuk kehidupan berkeluarga sampai dengan dewasa. Hal menarik akhir-akhir ini di media sosial bermunculan berita pro maupun kontra, diantaranya remaja yang dianggap plagiat maupun anak usia 14 tahun yang diterima kuliah di ITB. Dua berita tersebut tentunya tak lepas dari peran keluarganya dalam mendidik anak-anaknya. Penggunaan teknologi dan informasi mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk pengetahuan dan pola pikir. Jika digunakan secara bijak, tentunya akan mendapatkan manfaat yang optimal, dan sebaliknya.
Tiga dari empat orang penduduk berusia lima tahun keatas di Kalimantan Timur menguasai/memiliki telepon seluler (HP), dan satu dari empat orang menggunakan komputer baik berupa PC/desktop, laptop/notebook, dan tablet. Penggunaan alat komunikasi tersebut terkait dengan penggunaan internet. Pada kelompok usia yang sama, ada sebanyak 38,03 persen penduduk yang mengakses internet termasuk didalamnya mengakses facebook, twitter, BBM, whatsapp. Media yang paling dominan digunakan untuk mengakses internet adalah melalui HP/ponsel, mencapai 94,01 persen. Tujuan mengakses internet ini cukup beragam, yang paling banyak adalah mengakses sosial media, mendapat informasi/berita, hiburan, mengirim/menerima email, mengerjakan tugas sekolah, pembelian/penjualan barang/jasa, fasilitas finansial, dan lainnya. Sosial media perlu disikapi dengan bijak dan khusus untuk anak-anak memerlukan pendampingan dari orang dewasa di sekelilingnya maupun orang tuanya. Berita yang bermunculan pun harus dipilih dan dipilah secara bijak, karena tidak jarang berita yang muncul adalah hoax dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Fungsi dan peran keluarga sangat diperlukan untuk mewujudkan keluarga berkualitas sebagaimana amanat UU no 52 tahun 2009. Arus informasi dan teknologi yang tak dapat dibendung, hendaknya jangan sampai memunculkan fenomena alone together dalam keluarga. Secara fisik hadir dan berkumpul, namun masing-masing asyik dan tenggelam dengan gadget, televisi, dan media lainnya. Melalui momentum Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni nanti, semoga dapat menginspirasi untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan anggota keluarga. Untuk melihat apakah kebersamaan dengan keluarga sudah cukup terjalin, diantaranya apakah anak akan merasa rindu atau kehilangan saat orang tua sedang tidak di rumah? Ataukah justru anak merasa bebas dan merdeka saat tidak ada orang tua di rumah? Mari bangun keluarga masing-masing demi terwujudnya generasi yang lebih baik untuk kemajuan bangsa ini. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help