Sabtu, 25 April 2026

Duh, Sudah Dua Hari Warga Dirikan Jembatan Secara Gotong Royong

Bulu Perindu terletak di seberang Kampung Arab. Kedua wilayah dalam kota Tanjung Selor ini diperantarai sungai kecil, Sungai Selor.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Tampak jembatan kayu dikerjakan gotong royong oleh warga Bulu Perindu dan Kampung Arab, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, Selasa (4/7/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Bertahun-tahun warga Bulu Perindu, Kelurahan Tanjung Selor Ilir, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara hampir terisolasi total dari daerah kawasan di sekitarnya di dalam Kota Tanjung Selor.

Bulu Perindu memiliki empat Rukun Tetangga yaitu RT 15, RT 16, RT 17, dan RT 25 dengan total mencapai 150 Kepala Keluarga (KK)

Bulu Perindu terletak di seberang Kampung Arab. Kedua wilayah dalam kota Tanjung Selor ini diperantarai sungai kecil, Sungai Selor.

Untuk mengakses Tanjung Selor, warga Bulu Perindu harus menggunakan moda transportasi perahu ketinting dengan cara didayung. Hal ini sudah dialami warga secara turun-temurun.

Bertahun-tahun mengalami kondisi seperti ini, akhirnya warga Bulu Perindu dan Kampung Arab berinisiatif membangun jembatan.

Rencana itu akhirnya dilakukan dalam dua hari terakhir ini. Sebuah kerangka jembatan berbahan kayu tampak sudah melintang sekitar 60 meter.

"Ini inisiatif masyarakat sendiri. Awalnya pas kumpul-kumpul silaturahmi setelah Idul Fitri. Masyarakat mulai mengumpulkan uang pribadi masing-masing sehingga terkumpul Rp 3,5 juta sebagai dana awal membuat jembatan ini," kata H Abdul Rahman Salim, tokoh warga setempat yang ditemui Tribun, Selasa (4/7/2017) pukul 13.00 Wiga di lokasi pendirian jembatan.

Sebetulnya hasrat berdirinya sebuah jembatan yang menghubungkan dua perkampungan warga di dalam kota Tanjung Selor ini sudah disampaikan masyarakat kepada Pemkab Bulungan khususnya kepada instansi terkait.

Hanya saja, Pemkab Bulungan tak mengabulkan hal itu lantaran kondisi keuangan sulit.

"Sudah lama kami memasukkan proposal tetapi tidak ada balasan. Katanya tidak ada uang. Padahal kami berharap sekali," ujarnya.

M Jaiz Ketua RT 15 Bulu Perindu mengungkapkan, jembatan merupakan infrastruktur dasar yang paling dibutuhkan oleh sedikitnya 150 kepala keluarga di Bulu Perindu. Warga kawasan ini hanya tak bisa terus mengadalkan ketinting sebagai transportasi utama.

Warga Bulu Perindu yang bekerja di Tanjung Selor kadang terlambat sampai ke tempat kerja karena harus berjibaku dengan arus sungai ketika mendayung. Mirisnya lagi, anak-anak Bulu yang sekolahnya di seberang, juga kerap terlambat sampai di sekolah.

"Bahkan tak jarang pakaian siswa kena lumpur kalau mau ke sekolah. Hadirnya jembatan ini nanti kami harap tidak ada lagi anak-anak yang telat, yang pakaiannya kotor. Kami juga minta supaya Diknas siapkan bus sekolah untuk menjemput anak-anak dari Bulu Perindu," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, puluhan warga Bulu Perindu dan Kampung Arab masih sedang menyelesaikan pembuatan jembatan yang berbahan kayu jibung dan kayu dungun tersebut. Warga menaksir jembatan baru akan rampung pada hari Minggu akhir pekan ini.

"Harapannya Senin minggu depan, sudah bisa dipakai warga dan anak-anak sekolah menyeberang," kata M Jaiz.

Sekilas kerangka jembatan memiliki bentang kurang lebih 60 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Jarak dasar jembatan dari dasar sungai kurang lebih 3 meter. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved