TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Raksasa Tidur di Kaltara itu Bernama UMK

Provinsi termuda ini mempunyai struktur perekonomian yang masih bisa bertahan walaupun dari sisi eksternal terdapat tekanan.

Raksasa Tidur di Kaltara itu Bernama UMK
TRIBUNKALTIM/DOAN PARDEDE
Ilustrasi Pedagang bakso keliling termasuk salah satu wirausaha yang masuk kategori UMKM 

Widiyantono
Kasi Neraca Produksi BPS Provinsi Kalimantan Timur
widi2az@gmail.com

Perlambatan dan ketidakpastian perekonomian global tahun belakangan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara berkembang (Emerging Market and Developing Economies/EMDEs). Meskipun demikian, Indonesia masih survive terhadap terpaan badai ekonomi global. Sebagai gambaran, perekonomian Indonesia selama 2016 mengalami pertumbuhan sebesar 5,02 persen, sedikit menguat dibandingkan tahun 2015 yang hanya sebesar 4,88 persen.
Bagaimana dengan Kalimantan Utara? Provinsi termuda ini mempunyai struktur perekonomian yang masih bisa bertahan walaupun dari sisi eksternal terdapat tekanan. Dari sudut pandang struktur penciptaan nilai tambah ekonomi sebagaimana tercermin dalam indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor pertambangan dan penggalian memang masih menjadi penggerak utama perekonomian Kaltara, dengan share mencapai 27,68 persen, disusul sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan yang mempunyai kontribusi sebesar 17,01 persen, kemudian sektor konstruksi dan perdagangan yang masing-masing sharenya mencapai kisaran 12 dan 11 persen. Dengan struktur seperti itu, terpaan badai eksternal kiranya masih bisa dihadapi dengan baik. Terbukti dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2016 mencapai 3,75 persen, sedikit menguat dibandingkan tahun 2015 yang berada pada 3,40 persen.
Lantas bagaimana sebenarnya potret kondisi perekonomian dan daya saing serta potensi wilayahnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur baru-baru ini merilis data hasil pendataan Sensus Ekonomi 2016 (SE2016). Kegiatan pendataan tersebut diselenggarakan secara serentak diseluruh Indonesia pada bulan Mei tahun lalu. Pendataan SE2016 merupakan langkah awal dalam menakar kekuatan perekonomian wilayah melalui kegiatan pengumpulan data secara lengkap Secara umum, kegiatan usaha diklasifkasikan menjadi Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB). Klasifkasi usaha ditentukan dengan mempertimbangkan Klasifkasi Baku Lapangan Usaha (KBLI), badan usaha, jumlah tenaga kerja, kriteria sektoral lainnya serta threshold yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Kecil, Mikro Menengah dan Besar.
Berdasarkan hasil pendataan SE2016, tercatat sebanyak 54,49 ribu usaha/perusahaan pada tahun 2016, meningkat dibandingkan pendataan Sensus Ekonomi 2006 (SE2006) yang hanya sejumlah sebanyak 33,23 ribu usaha. Dengan demikian terjadi peningkatan jumlah usaha rata-rata sekitar 5,06 persen per tahunnya selama 10 kurun waktu terakhir. Dari total usaha/perusahaan di Kalimantan Utara tahun 2016, sebanyak 53.145 unit usaha (97,53 persen) tergolong UMK, selebihnya yaitu 1.348 unit usaha (2,47 persen) tergolong UMB. Dominasi UMK juga terlihat pada level nasional dengan persentase mencapai 98,33 persen.
Terkait potensi wilayah Kalimantan Utara, data SE2016 menunjukkan bahwa hampir separuh (47,27 persen) dari total usaha di Kalimantan Utara menjalankan aktivitas ekonomi pada kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (Kategori G). Usaha lainnya yang cukup banyak adalah usaha Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum (Kategori I), yaitu 17,54 persen. Sementara itu, jumlah usaha yang tersebar pada kategori lainnya berada di bawah 10 persen terhadap total usaha di Kalimantan Utara. Peranan UMK pada beberapa kategori sangat signifkan. Pada kategori yang dominan yaitu Kategori G, sebanyak 98,68 persen dari total usaha pada kategori tersebut berskala UMK, sedangkan pada Kategori I, 99,76 persen usaha pada kategori tersebut merupakan usaha yang termasuk klasifikasi UMK.
Dari aspek ketenagakerjaan, peranan UMK dalam penyerapan tenaga kerja tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari total tenaga kerja sebanyak 149.676 orang, UMK menyerap 74,77 persen tenaga kerja, atau sekitar 111.920 orang, Sementara UMB hanya menyerap 25,23 persen tenaga kerja di Kalimantan Utara. Dirinci menurut kategori, terlihat sebaran tenaga kerja menunjukkan pola yang serupa dengan persebaran jumlah usaha. Kategori usaha G dan I mempunyai kontribusi penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi, masing- masing 30,25 persen dan 11,02 persen dari total tenaga kerja yang ada di Kalimantan Utara. Kategori lainnya yang cukup signifkan dalam penyerapan tenaga kerja adalah kategori Industri Pengolahan (Kategori C) dan usaha Pendidikan (Kategori P), masing-masing menyerap sekitar 12 persen dari total tenaga kerja. Bila dijumlahkan, keempat kategori tersebut mampu menyerap 65,98 persen tenaga kerja atau sebanyak 98.756 orang pekerja. Sementara itu, kontribusi kategori lainnya dalam penyerapan tenaga kerja masing-masing hanya memberikan kontribusi di bawah 10 persen
Diitinjau secara spasial, jumlah usaha tertinggi berada di Kota Tarakan, yaitu sebanyak 20.549 unit usaha, atau 37,71 persen dari total usaha di Kalimantan Utara. Dirinci menurut skala usaha, sebanyak 646 unit usaha, atau hanya sekitar 3,14 persen, merupakan UMB, sedangkan 19.903 unit usaha, atau sekitar 96,86 persen dari total usaha yang berada di Kota Tarakan, merupakan usaha dengan skala usaha mikro dan kecil (UMK). Jumlah usaha tertinggi kedua adalah Kabupaten Nunukan sebanyak 14.314 usaha atau mencapai 26,27 persen, dan selanjutnya adalah Kabupaten Bulungan sebanyak 11.031 usaha atau mencapai 20,24 persen dari total usaha di Kalimantan Utara.
Peranan UMK dalam perekonomian nasional memang cukup kuat dan signifkan. Pasca krisis ekonomi tahun 1998, UMK mampu bertahan dan menjadi roda penggerak ekonomi serta mampu menyerap tenaga kerja cukup besar dan relatif cukup mudah dalam melakukan inovasi sebagai upaya meningkatkan produktivitas usaha. Dalam koridor integrasi ekonomi seperti Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), UMK menghadapi berbagai tantangan untuk dapat berkembang, antara lain keterbatasan akses finansial dan modal kerja serta lemahnya daya saing terhadap produk impor. Disamping itu keterbatasan pemanfaatan teknologi yang mengakibatkan aktivitas promosi menjadi terbatas juga menjadi penghambat untuk memperluas target pasar. Perencanaan bisnis yang ala kadarnya, serta kurangnya investasi pada penelitian dan pengembangan produk seringkali juga menjadikan daya saing UMK di pasar global masih tergolong kurang. Belum lagi bicara tentang infrastruktur utamanya bagi UMK di daerah pedesaan, akses transportasi seringkali menjadi penghambat bagi mereka. Oleh karena intervensi dari pemerintah baik pusat maupun daerah yang bersinergi sangat diperlukan demi memacu kemajuan dan daya saing UMK.
Kalimantan Utara sebagai daerah yang baru dan prospek berkembang ke depan yang menjanjikan, maka pengembangan usaha mikro kecil selayaknya terus dilakukan sebagai upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Sejalan dengan visi dan misi RPJMD Kalimantan Utara 2016-2021, pengembangan UMK bertujuan untuk menciptakan kemandirian Kalimantan Utara dari ketergantungan ekonomi dengan wilayah lain. Pengembangan UMK diharapkan mendorong tumbuhnya sentra usaha mikro kecil di Kalimantan Utara yang berbasis produk unggulan lokal, seperti agroindustri dan kelautan, sehingga tercipta keberlanjutan pembangunan di wilayah ini. Besarnya potensi tersebut laksana raksasa yang tengah tidur, sudah selayaknya dibangunkan, agar cita-cita bersama menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dapat tercapai. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help