TribunKaltim/

Pembayaran di Pelabuhan Tradisional dan Perbatasan Wajib Gunakan Rupiah

"Apapun alasannya, ini Indonesia. Pakai rupiah. Jangan mau terima ringgit," ujarnya, Minggu (16/7/2017).

Pembayaran di Pelabuhan Tradisional dan Perbatasan Wajib Gunakan Rupiah
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi ringgit 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan, Abdi Jauhari, telah menginstruksikan kepada jajarannya agar semua transaksi di pelabuhan maupun dermaga tradisional harus menggunakan mata uang rupiah.

Tak terkecuali di Pulau Sebatik yang berbatasan darat dan laut langsung dengan Malaysia.

Abdi mengatakan, petugas harus menolak pembayaran yang menggunakan mata uang ringgit Malaysia.

"Apapun alasannya, ini Indonesia. Pakai rupiah. Jangan mau terima ringgit," ujarnya, Minggu (16/7/2017).

Diakui, penggunaan mata uang rupiah dan ringgit Malaysia sudah berlangsung puluhan tahun di Pulau Sebatik. Hal ini tak lepas dari akivitas warga di Pulau Sebatik yang banyak ditunjang Malaysia.

Selain lebih banyak bertransaksi di Malaysia, warga juga menganggap ringgit Malaysia lebih simpel dibandingkan rupiah yang nominalnya besar.

Abdi mengatakan, selama ini sejumlah warga juga membayar retribusi pelabuhan dengan menggunakan mata uang ringgit Malaysia.

"Itu kan ada retribusi penumpang Rp 2.000 dan asuransi jasa raharja Rp 1000. Kalau dihitung RM 1. Itu alasan mereka bayar pakai ringgit. Nggak ribet. Tetapi sekarang tidak boleh lagi,” ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help