TribunKaltim/

Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah di Jangka Pendek untuk Tekan Kemiskinan

Turunnya harga batubara memiliki multiplier effect, hingga ke tingkat kesejahteraan buruh tani di pedesaan.

Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah di Jangka Pendek untuk Tekan Kemiskinan
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Penduduk miskin sedang antre menerima bantuan PSKS di Kantor Bulungan tahun lalu. Presentase kemiskinan di Bulungan saat ini tertinggi di Kaltara. 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemerintah di Kaltim harus memastikan program-program yang bersentuhan dengan penduduk miskin dilaksanakan tepat waktu.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Habibullah, saat merilis hasil pendataan kemiskinan di Kaltim, Senin (17/7/2017).

Ketepatan waktu pelaksanaan program-program untuk penduduk miskin, menurut Habibullah, bisa menjadi solusi jangka pendek menekan angka kemiskinan.

Diketahui, program pembagian raskin di Kaltim, sempat terlambat beberapa bulan.

"Pemberian beras miskin (raskin), subsidi kesehatan dan pendidikan untuk warga miskin, harus tepat waktu," kata Habibullah.

Keterlibatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam hilirisasi industri yang dilakukan Usaha Menengah Besar (UMB), kata Habibullah, bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Pada akhirnya, terjadi peningkatan daya beli masyarakat yang berdampak pada menipisnya kesenjangan antara kaya dan miskin.

"UMKM ini harus digandeng oleh UMB. Karena, sektor UMKM ini menyerap 60 persen tenaga kerja. Kalau UMKM lokal tidak digandeng, kesenjangan antara kaya dan miskin akan melebar," jelas Habibullah.

Meningkatnya angka kemiskinan, menurut Habibullah, juga disebabkan menurunnya harga batubara, yang menjadi komoditi ekspor andalan Kaltim, selain minyak dan gas.

Turunnya harga batubara memiliki multiplier effect, hingga ke tingkat kesejahteraan buruh tani di pedesaan.

"Alurnya seperti ini, batubara turun, kontrakan sepi. Akibatnya daya beli masyarakat (yang punya kontrakan) menurun. Dia belanja ke pasar jadi berkurang. Pada akhirnya, volume jual petani juga akan berkurang dan memengaruhi upah buruh tani," urainya. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help