TribunKaltim/

Lelah Bertahun-tahun Menunggu, Warga Akhirnya Urunan Rp 3 Juta Bangun Jembatan Kayu

Oleh masyarakat sekitar, jembatan ini dinamai "Jembatan Buluh Perindu Seminggu" sesuai waktu pengerjaannya.

Lelah Bertahun-tahun Menunggu, Warga Akhirnya Urunan Rp 3 Juta Bangun Jembatan Kayu
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
Warga melintas di atas jembatan kayu Jembatan Buluh Perindu Seminggu dusun Buluh Perindu, RT 17 Kelurahan Tanjung Selor Hulu, Senin (17/7/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Sebuah jembatan kayu sepanjang sekitar 30 meter dengan lebar 1,5 meter kini berdiri di seputar Dusun Buluh Perindu, RT 17 Kelurahan Tanjung Selor Hulu, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kaltara.

Oleh masyarakat sekitar, jembatan ini dinamai "Jembatan Buluh Perindu Seminggu" sesuai waktu pengerjaannya yang tak sampai menghabiskan waktu 1 minggu.

Pantauan Tribunkaltim.co di lokasi jembatan, Senin (17/7/2017), aktivitas warga yang lalu lalang di atas jembatan cukup padat.

Konstruksi jembatan sendiri terbilang cukup sederhana.

Baca: Progres Pembangunan Capai 80 Persen, Pekan Ini Jembatan Tengin Baru Ditargetkan Dapat Dilalui

Puluhan batang kayu ditancapkan hingga ke dasar sungai. Selanjutnya, dibuat palang dan diatasnya disusun ratusan lembar papan sebagai pijakan.

Ketua RT 17 Musaka menuturkan, inisiatif membangun jembatan muncul karena sebagai besar warga lelah menunggu janji Pemkab Bulungan yang ingin membangun jembatan gantung, yang tak kunjung direalisasikan.

Padahal di satu sisi, keberadaan sebuah jembatan belakangan ini dirasa kian mendesak untuk mendukung kegiatan sehari-hari warga.

Sebelum ada jembatan, warga yang ingin sekolah, belanja, bekerja hingga berobat harus menyeberangi sungai dengan menggunakan perahu tambangan.

Dan masalahnya, kala air sungai surut, warga kelimpungan untuk menyeberang. Apalagi jika ada warga yang sangat mendesak untuk segera dibawa ke rumah sakit.

"Kalau air surut, ya nggak bisa ngapa-ngapain. Perahu (tambangannya) nggak bisa ditarik," ujar Musaka.

Akhirnya, warga pun berinisiatif membangun jembatan. Tanpa dipatok, tiap warga dengan sukarela memberikan sumbangan untuk pembangunan jembatan. Setelah uang yang terkumpul mencapai Rp.3 juta, barulah pembangunan jembatan dimulai secara bergotong-royong.

"Dananya kita kumpulkan dari masyarakat. Ada yang menyumbang Rp.100ribu, ada yang Rp.20 ribu, ada yang Rp 5ribu," ujarnya.

Dengan adanya jembatan ini, aktivitas warga khususnya pelajar dan yang ingin berobat, menurutnya menjadi lebih mudah.

"Kalau dulu, kita pusing kalau air surut. Bagaimana anak-anak sekolah, bagaimana kalau ada yang sakit. Sekarang bawa jenazah saja kita sudah tinggal menggotong, nggak perlu pakai tambangan," ujarnya. (*)

Penulis: Doan E Pardede
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help