TribunKaltim/

Pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar Tinggal Berjejalan di Kamp Banglades

Tidak lebih dua km2 terdapat 20.000 pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar di daerah Leda, Teknaf, Cox's Bazar, wilayah pesisir Banglades selatan.

Pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar Tinggal Berjejalan di Kamp Banglades
(Reuters)
Para pengungsi Rohingya, sebagian adalah anak perempuan, yang memasuki Banglades untuk menghindari kekerasan di Rakhine, Myanmar, Senin (21/11/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO, DAKKA - Di wilayah tak lebih dari dua kilometer persegi saja terdapat 20.000 pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar di daerah Leda, Teknaf, Cox's Bazar, wilayah pesisir Banglades selatan.

Inilah salah satu kamp di Banglades untuk pengungsi Rohingya, yang melarikan diri dari Myanmar karena mengklaim telah mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat kelompok minoritas Rohingya ini tinggal.

Pemerintah Myanmar telah berulangkali menyangkal tudingan bahwa militernya telah melakukan kekerasan terhadap warga minoritas Rohingya itu. Letak geografis yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf menjadikan Banglades sebagai salah satu tujuan utama pelarian orang-orang Rohingya. Oleh sebab itu, jumlah pengungsi Rohingya di Banglades diperkirakan melebihi angka 400.000 orang.

Berjejalan di satu petak

Sebagian besar mereka menempati kamp-kamp di Distrik Coz's Bazar, wilayah terdekat dengan Rakhine. Di kamp pengungsi di Leda, barak terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun pinang ditambal dengan terpal. Adapun lantainya adalah tanah semata.

Tungku tanah liat beserta beberapa peralatan dapur, bumbu, tikar tidur dan pakaian menyatu dalam satu ruang itu. Di musim hujan seperti pertengahan tahun sekarang, angin kencang kerap membuat atap-atap beterbangan.

"Dua keluarga tinggal bersama dalam satu petak barak tidaklah mudah, khususnya menyangkut makanan dan ruang gerak. Tidak ada ruang untuk bergerak. Ada pula masalah sanitasi. Semuanya menjadi masalah," ungkap Khadija, salah seorang pengungsi Rohingya.

Khadija (25), punya dua putra masing-masing berusia tiga tahun kelahiran Myanmar, dan putra bungsunya, tujuh bulan, lahir di barak ini tepat 15 hari hari setelah tiba di Banglades pada November 2016, menyusul operasi militer di negara bagian Rakhine pada bulan sebelumnya.

"Air bersih terbatas. Setiap hari kami dapat dua ember air, jika ada cukup air maka anak-anak saya bisa mandi. Saya mandi sekali seminggu dan membawa air dari tempat penampungan yang agak jauh. Kalau suami sedang di rumah maka ia mengambil air."

Akses kesehatan

Halaman
123
Editor: Maturidi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help