TribunKaltim/

Tren Bakso Beranak Ternyata Dirintis Dalam Perjuangan yang Panjang dan Berat

Dengan modal sedanya, ia harus bergantian kompor dengan sang istri yang juga mencari nafkah dengan jualan nasi uduk mulai pagi hingga siang hari.

Tren Bakso Beranak Ternyata Dirintis Dalam Perjuangan yang Panjang dan Berat
KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA
Dalam seporsi bakso bernak isi enam ini terdapat juga lima bakso daging kecil di dalam mangkuknya. Namun, mi, bihun, kwetiau, tauge dan sayurannya disediakan terpisah dari mangkok berisikan bakso. 

Bakso itu pun ia jual mulai Rp 3.000 per porsi. Dengan modal sedanya, ia harus bergantian kompor dengan sang istri yang juga mencari nafkah dengan jualan nasi uduk mulai pagi hingga siang hari.

Saling menjadi topangan, suami-istri tersebut kerja nyaris tak putus dari pagi hingga malam. Bermodal tekun, Oding terus belajar sendiri proses pembuatan bakso agar bulat dan tidak pecah.

"Waktu 2013 ide muncul, biar bulatnya rapih, coba dikasih telor puyuh dalemnya. Terus juga nyoba isian sosis sama bakso giling cabe yang jelek, ditutupin adonan lagi biar bulat sempurna," terangnya.

Bakso yang merupakan cikal bakal "bakso beranak" itu diapresiasi dengan baik oleh pelanggannya. Pelanggannya pun mulai familiar dengan bentuk bakso "aneh" tersebut.

Dari sana, Oding mulai berkreasi membuat bakso beranak dengan berbagai macam isian. Dulu ada telor, sosis, bakso pedas, dan tahu. Penggemarnya pun semakin banyak, meski pada awal kemunculannya pasang surut masih sangat terasa.

Ada yang unik soal penamaan kedai baksonya, "Big Bakso Family". Pada awalnya, Oding menginginkan karyawan yang kerja dengannya merasa nyaman layaknya keluarga.

Tak disangka, hingga 2017 ini pun sistem yang ia bangun tersebut kian terlihat. Tak kurang dari 14 cabang di Jabodetabek dan Bandung ia jadikan keluarga besar Big Bakso Family.

"Sampai sekarang sistemnya kekeluargaan, tidak ada franchise. Pokoknya mereka mampunya berapa, nanti belanja ke saya, supaya kualitas terjaga. Untuk setoran pun kita fleksibel, yang susah kita bantu, yang penting benar-benar mau kerja di dunia bakso," pungkas Oding dengan yakin.

Ia pun tak ragu membantu finansial keluarga ke-25 karyawan intinya. Mereka tak jarang diberi upah tambahan hingga disekolahkan.

Kini, kedai pusat yang berlokasi di Jalan Raya Kertamaya No 8 bisa menghabiskan 300 kilogram daging sekali produksi.

Soal keuntungan, ia tak mau berkomentar banyak. Tetapi menurutnya hasil kerja keras itu bisa menyekolahkan kedua anak kesayangan dan terus menghidupi Big Bakso Family. (Kompas.com)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kisah Perjuangan di Balik Terciptanya Tren "Bakso Beranak"

Editor: Kholish Chered
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help