TribunKaltim/

Parenting

Ajari Perbedaan Sejak Dini, Kelak Anak Kita akan Miliki Karakter yang Baik

Hal yang paling sederhana dikenali anak yakni perbedaan warna kulit atau bahasa yang dijumpainya sehari-hari.

Ajari Perbedaan Sejak Dini, Kelak Anak Kita akan Miliki Karakter yang Baik
Rawpixel
Sejak kecil anak sebaiknya diberi pemahaman yang benar soal perbedaan. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Anak usia 3 tahun umumnya sudah mulai bisa mengenali perbedaan.

Hal yang paling sederhana dikenali anak yakni perbedaan warna kulit atau bahasa yang dijumpainya sehari-hari.

Selain itu, anak usia 3 tahun juga sudah bisa menyerap informasi secara cepat. Dengan kemampuan tersebut, sangatlah mudah mengajari anak tentang hal baru.

Hal tersebut dikatakan Psikolog Anak dan Remaja Elizabeth Santosa saat menghadiri acara peluncuran buku berjudul “Kitu, Kucing Kecil Bersuara Ganjil” di Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Hal baru yang berbau positif akan sangat membantu orangtua untuk mendidik anaknya menjadi karakter yang baik.

Baca: Pesan Jokowi kepada Anak-anak: Jangan Mem-bully, Mengejek, Apalagi Mencemooh Ya. . .

Namun, jika hal baru tersebut bersifat negatif seperti ujaran kebencian, pemahaman radikal atau lebih parahnya intoleransi, tentu hal tersebut akan menjadi bencana bagi orangtua manapun.

Tak sedikit orang tua yang belum memiliki kesadaran untuk memberikan pemahaman bahwa perbedaan itu ada dan musti disikapi dengan sebaik mungkin. Namun, karena hal tersebut dianggap tabu karena mengandung SARA, orang tua kebanyakan menghindarinya.

Baca: Toleransi di Keluarga Dian Sastro, Ketika Putrinya Ingin Jadi Mualaf, Ini Permintaan Sang Ibu

Menurut Elizabeth, seharusnya orangtua menjadi pilar pertama yang memberikan pemahaman terkait perbedaan yang ada disekitarnya, agar perbedaan tersebut tidak menjadi penghambatnya untuk berkreasi.

"Masyarakat terlebih orangtua harus aware bahwa anak-anaknya sangat rentan terhadap paham radikalisme, kebencian dan intoleransi," kata Elizabeth.

Jangan sampai, ketika anak menemui perbedaan dan dirinya kurang pemahaman yang cukup, ditambah lagi masuknya pemahaman-pemahaman di sekitarnya yang menjurus ke radikalisme, anak tersebut akan terbentuk menjadi anak yang memiliki sifat kebencian yang besar.

"Sudah saatnya orangtua sesering mungkin berdiskusi dengan anaknya, membangun komunikasi yang baik, melatih pola pikir kritis. Jangan merasa bahwa di sekolah anak kita baik-baik saja, kita tidak pernah tahu. Maka dari itu bangunlah komunikasi yang baik dengan anak," pungkas Elizabeth. (Kompas.com/Iwan Supriyatna)

Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help