TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Antara Anak dan Teknologi

Internet bisa menjadi pedang bermata dua bagi para orang tua. Di satu sisi, internet membawa dampak positif bagi anak-anak

Antara Anak dan Teknologi
THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

Indah Cahyani,S.ST
Staf Statistik Kesra- Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Kalimantan Timur
email : indahcmt@bps.go.id

Kemajuan informasi dan teknologi komunikasi sering dipandang sebagai suatu gambaran pembangunan di suatu wilayah. Berbagai media seperti mobile phone, komputer dan internet berkembang luas dan memainkan peran yang besar sebagai media pengembang informasi dan komunikasi di era sekarang ini. Kepopuleran media sosial sebagai sarana berkomunikasi pun menjadi suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak. Dengan menggunakan media sosial, akses komunikasi jarak jauh terasa lebih cepat dan efisien. Berbagai macam gadget bermunculan dengan kecanggihan yang beragam.
Internet bisa menjadi pedang bermata dua bagi para orang tua. Di satu sisi, internet membawa dampak positif bagi anak-anak, terutama dalam bidang pengembangan diri. Anak-anak dapat mengetahui perkembangan informasi di dunia secara cepat sehingga dapat membantu mengembangkan pengetahuan dan kreativitasnya. Selain itu, koneksi yang lebih mudah menjangkau segala wilayah membuat jejaring komunitas, kekeluargaan dan pertemanan menjadi semakin mudah. Hal itu secara tidak langsung menjadi sarana untuk pengembangan diri mereka. Namun perlu kita lihat juga dampak buruknya seperti cyber bullying yang marak terjadi akhir-akhir ini, konten-konten dewasa yang tersebar tanpa batas dan bisa diakses bebas oleh anak-anak, serta kecenderungan anak-anak untuk menghabiskan waktu untuk mengakses internet daripada berinteraksi langsung dengan teman-teman atau orang-orang di sekitarnya.
Dengan melihat hasil proyeksi penduduk Provinsi Kalimantan Utara tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, penduduk yang berusia 0-17 tahun di provinsi termuda ini pada tahun 2016 mencapai 238 ribu jiwa atau sebesar 36 persen dari total penduduknya. Data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2016 di Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan bahwa terdapat 33,80 persen anak-anak berusia 5-17 tahun yang menguasai/memiliki telepon seluler (HP) dalam 3 bulan terakhir. Apabila dirinci menurut jenis kelamin, anak perempuan lebih banyak persentasenya yakni 53 persen dibanding anak laki-laki sebesar 47 persen. Jika dirinci menurut kabupaten/kota, Kota Tarakan memiliki persentase tertinggi yakni sebesar 37,22 persen anak-anak berusia 5-17 tahun yang menguasai/memiliki telepon seluler (HP). Terlepas dari digunakan untuk apa telepon seluler tersebut, orang tua harus terus memantau penggunaan telepon seluler (HP) anak-anaknya.
Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah memuat tentang perbuatan yang dilarang (cyber crimes) yaitu dalam pasal 27, 28, dan 29 mengenai konten ilegal yang terdiri dari kesusilaan, perjudian, penghinaan/pencemaran nama baik, pengancaman dan pemerasan. Hal tersebut diharapkan dapat membatasi konten-konten negatif yang bisa diakses anak-anak. Namun kepedulian terhadap penggunaan internet oleh anak-anak haruslah tetap dilakukan oleh orang tua maupun orang dewasa di sekitarnya.
Hasil SUSENAS tahun 2016 juga memberikan informasi mengenai penggunaan internet yang meliputi pengakses internet, alat yang digunakan untuk mengakses internet, tempat mengakses internet serta tujuan mengakses internet. Hasilnya menunjukkan bahwa 24,88 persen anak berumur 5-17 tahun mengakses internet dalam 3 bulan terakhir dengan persentase perempuan lebih banyak dibandingkan laki - laki yakni 53 persen dibanding 47 persen.
Hasil dari data SUSENAS tahun 2016 menjelaskan bahwa untuk mengakses internet, 78 dari 100 anak berumur 5-17 tahun di Provinsi Kalimantan Utara memilih HP/ponsel sebagai alat untuk mengakses internet. Sedangkan laptop/Notebook /Tablet mendapatkan persentase sebesar 43,73 persen dan dekstop sebesar 32,22 persen. Hal ini menunjukkan bahwa HP/Ponsel merupakan sarana yang paling umum digunakan oleh anak-anak untuk mengakses internet, dimungkinkan karena mudah dibawa kemana-mana.
Sekarang ini hampir di seluruh wilayah Indonesia sudah terfasilitasi oleh jaringan internet yang cukup baik, begitu pun di provinsi Provinsi Kalimantan Utara. Dari hasil SUSENAS tampak pula bahwa tempat yang banyak dipilih oleh anak-anak berusia 5-17 tahun untuk mengakses internet adalah rumah sendiri, sebesar 86,02 persen. Gedung sekolah/kampus justru menduduki persentase terbesar kedua sebesar 49,27 persen. Dari fenomena inilah peran orang tua dan keluarga di rumah menjadi sangatlah penting. Pengawasan terhadap akses internet oleh anak-anak yang sebagian besar menggunakan HP/ponsel sebagai medianya memang cukup sulit namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Untuk tujuan mengakses internet, anak berumur 5-17 tahun yang mengakses internet dalam 3 bulan terakhir di Provinsi Kalimantan Utara sebagian besar menggunakannya untuk mengerjakan tugas sekolah, yaitu sebesar 28 persen. Sedangkan persentase terbesar kedua adalah untuk mengakses sosial media/jejaring sosial sebesar 24 persen. Jumlah ini yang perlu kita perhatikan lebih lanjut. Kebutuhan untuk mengerjakan tugas sekolah dan akses ke media sosial/jejaring sosial tidak berbeda jauh. Dengan melihat jumlah penduduk hasil proyeksi Provinsi Kalimantan Utara tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, lebih dari 57.000 anak berumur 5-17 tahun yang mengakses internet dalam 3 bulan terakhir untuk keperluan media sosial/jejaring sosial. Media sosial memang dibutuhkan untuk aktualisasi diri anak dan mempermudah komunikasi namun perlu diperhatikan akhir-akhir ini marak kasus bullying di media sosial yang sebagian korban serta pelakunya adalah anak-anak. Hendaknya perlu ada perhatian khusus mengenai keadaan tersebut. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help