TribunKaltim/

Prihatin Anak Perbatasan ke Sekolah Jalan Kaki Puluhan Kilometer, SR Kirim Lima Unit Sepeda

Dipilihnya lokasi itu berawal dari keprihatinan Rinta terhadap nasib anak-anak TKI dari Kampung Bergosong.

Prihatin Anak Perbatasan ke Sekolah Jalan Kaki Puluhan Kilometer, SR Kirim Lima Unit Sepeda
TRIBUNKALTIM.CO/NIKO RURU
Anak-anak TKI asal Negara Bagian Sabah, Malaysia yang menempuh pendidikan di SD Katolik Fransisco Yashinta, Kecamatan Nunukan Selatan. 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru
 
TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Prihatin dengan kondisi anak-anak di perbatasan Republik Indonesia- Malaysia di Pulau Sebatik, yang harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer menuju ke sekolah, Sedekah Rombongan (SR) akhirnya mengirimkan lima unit sepeda.  

Sepeda tersebut dikirim dari Surabaya menggunakan kapal tol laut.

"Banyak anak-anak TKI kita yang bekerja di Malaysia, tetapi sekolah ke Indonesia. Kami data, lakukan survei, kami buatkan laporan ke pusat. Akhirnya dikirimlah lima buah sepeda Paragon,"ujar Rinta Wulandari, Koordinator SR wilayah Kalimantan Utara, Rabu (2/8/2017).

SR melakukan survei ke mess atau kongsi TKI di Kampung Bergosong, Malaysia. Dipilihnya lokasi itu berawal dari keprihatinan Rinta terhadap nasib anak-anak TKI dari Kampung Bergosong.

Sebagai Relawan Rumah Baca Lentera Perbatasan Kampung Lourdes, dia menyaksikan puluhan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia harus berangkat dari Malaysia ke sekolahnya di Indonesia saat masih adzan subuh.

Mereka harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat sampai di sekolah.

"Jauh sekali jaraknya, mungkin sampai sepuluh kilometer. Baru jalannya hancur lewat perbukitan dan kebun sawit. Itu pertimbangan kami memintakan mereka sepeda," ujarnya.

Dengan lima unit sepeda dimaksud, anak-anak buruh sawit tersebut dapat berboncengan.

Sehingga anak-anak TKI yang rela berjalan kaki di pagi buta ini, bisa semakin akrab dan gembira melihat masa depannya saat menuju SD 005 Lourdes, Kecamatan Sebatik Tengah.

"Kami berharap mereka bisa bergantian memakai sepeda itu. Sementara hanya lima unit saja. Kami punya kendala pada masalah harga dan ongkos kirim," ujarnya.

Wanita asal Kota Lampung ini mengabdikan diri sebagai perawat di Desa Aji Kuning. Diapun terlibat SR Kalimantan Utara yang kini sudah berusia setahun.

“Tentu kami masih butuh proses panjang untuk melakukan perubahan termasuk perhatian untuk kondisi perbatasan,” ujarnya.

SR, kata dia, akan berupaya membantu sebisanya. Dengan anggota tersebar secara nasional, kelompok ini menjadi lembaga yang mengumpulkan dana melalui media sosial.

Setiap permasalahan akan disetujui setelah survei dan pembuktian. Dia menjelaskan, untuk mendapat bantuan SR, tidak ada kata dipersulit.

“SR tak butuh foto copy KK, salinan KTP atau melalui birokrasi yang panjang. Cukup melaporkan ke SR pusat, mereka akan survei dan bantuan bisa datang secepatnya. Karena kami punya tag line, menyampaikan titipan dari langit tanpa rumit, sulit, dan berbelit-belit,” katanya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help