TribunKaltim/

Penyu Hijau

Ingin Tahu Beda Penyu Bertelur atau Tidak, Dilihat dari Jejak yang Tertinggal di Atas Pasir

Bersama petugas konservasi dari BKSDA, Rismanto menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Hanya sekitar 30 meter berjalan kaki untuk mengelilingi pusat

Ingin Tahu Beda Penyu Bertelur atau Tidak,  Dilihat dari Jejak yang Tertinggal di Atas Pasir
tribunkaltim.co/geafry necolsen
Kapolsek Bidukbiduk, AKP Suradi ikut melepasliarkan tiga ekor anak penyu yang diamankan dari warga, Rabu (8/2/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO - Belum lama ini, Tribun berkesempatan mengikuti patroli bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tepat tengah malam, hingga pukul 3 pagi, penyu enggan muncul karena air laut tengah pasang.

Bersama petugas konservasi dari BKSDA, Rismanto menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Hanya sekitar 30 meter berjalan kaki untuk mengelilingi pusat konservasi penyu di Pulau Sangalaki .

Tribun beruntung, seekor penyu hijau tengah bersembunyi di balik semak-semak. Kedua sirip belakangnya terus mengais butiran pasir membentuk lubang yang cukup dalam. Tak ingin penyu itu beranjak, Rismanto berusaha mendekat secara perlahan-lahan.

Rismanto melanjutkan perjalanannya menyusuri pulau seorang diri. Tribun yang bertahan di lokasi bisa menyaksikan beberapa telur berjatuhan ke dalam lubang pasir.

Tanpa campur tangan manusia, penyu segera menutup kembali lubang pasir itu dengan kaki depannya. Seperti biasa, mahluk cerdas itu membuat kamuflase, setelah menutupi lubang telur yang sebenarnya. Penyu ini berpura-pura menimbun pasir di tempat lain, tapi masih tak jauh dari sarang sebenarnya. Induk penyu pun beristirahat sejenak.

Musim bertelur ini terjadi sepanjang tahun dengan puncak musim berbeda. Khusus di Pulau Sangalaki, puncak musim bertelur terjadi pada Mei hingga September. Uniknya, penyu yang bertelur atau tidak, bisa dibedakan dari jejak yang ditinggalkan di atas pasir. Jika jejak garis ekor memanjang tidak terputus di antara jejak sirip, artinya penyu bertelur. Sedangkan penyu yang tidak bertelur, biasanya meninggalkan jejak ekor berupa garis putus-putus.

Jejak unik ini dipengaruhi aktivitas saat bertelur itu sendiri. Penyu yang telah bertelur biasanya sangat lelah sehingga saat meninggalkan pantai, menyeret seluruh tubuhnya hingga ke laut. Sedangkan penyu yang tidak bertelur punya tenaga lebih untuk sesekali mengangkat tubuhnya di atas pasir sehingga meninggalkan garis ekor putus-putus.

Clep! Bilah besi mengenai telur penyu. "Aduuh..telur penyunya pecah," teriak Rismanto dengan nada menyesal. Ditanggalkannya bilah besi itu ke atas pasir, kedua tangannya segera menyingkap butiran pasir, sekitar 10 centimeter dalamnya, Rismanto berhasil menemukan puluhan telur penyu yang masih segar. Begitu cara melacak telur penyu, ditekan untuk mengetahui ada atau tidaknya telur penyu.

Mencari telur penyu ibarat mencari harta karun. Meski ada jejak yang ditinggalkan tapi tetap saja tak mudah menemukannya. Tak hanya berharga bagi ekosistem, telur penyu ini juga punya nilai jual tinggi. Di kalangan penjarah telur penyu, satu sarang penyu bisa diharga Rp 500 ribu.

Menurutnya, telur penyu yang berasal dari Berau punya nilai yang lebih tinggi jika dibanding telur penyu dari daerah lain. "Telur penyu dari Berau itu kualitasnya bagus, karena pasirnya bersih dan halus," jelasnya. Memang, Pulau Sangalaki adalah surga para penyu. (*)

Tags
penyu
telur
Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help