TribunKaltim/

Warga Harus Berjalan Berhari-hari untuk Beli Sembako di Malaysia

eburuk-buruknya nasib, masyarakat harus menginap berhari-hari dalam perjalanan menuju Malaysia. Pasti ada biaya tambahan

Warga Harus Berjalan Berhari-hari untuk Beli Sembako di Malaysia
tribun kaltim/sarassani
Ilustrasi; Jalan Desa Petiku yang masih berupa jalan tanah dimana beberapa titik diantaranya berlumbang/berlumpur sehingga warga harus ekstra hati-hati dalam saat melintasinya,

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - KondisI lama kembali terjadi. Masyarakat Kayan Hulu Kabupaten Malinau Provinsi Kaltara yang sudah cukup lama tidak membeli kebutuhan pokok ke Malaysia kembali membuka kerjasama dengan pedagang Malaysia di Tapak Mega. Untuk belanja ke Malaysia, masyarakat harus berkorban tenaga dan biaya lebih dari biasanya. Padahal, sejak tahun 2016 silam masyarakat Kayan Hulu sudah mulai tidak membeli produk Malaysia.

"Ya kalau yang khusus-khusus, mungkin masih beli ke Malaysia. Tapi, kalau kebutuhan barang pokok masyarakat banyak belanja di Samarinda. Nah, kalau sudah jalan putus seperti ini maka terpaksa masyarakat harus kembali belanja ke Malaysia. Padahal, untuk menjangkau Malaysia saat ini harus melalui halangan rintangan yang besar," ujar anggota DPRD Malinau, Kila Liman.

Kualitas jalan di wilayah Indonesia yang begitu buruk, ditambah dengan cuaca di Kayan Hulu kerap diguyur hujan, menurut Kila, membuat kondisi jalan semakin parah. Seburuk-buruknya nasib, masyarakat harus menginap berhari-hari dalam perjalanan menuju Malaysia. Sudah barang tentu, akan mengeluarkan biaya tambahan.

"Kalau nasib baik, sehari bisa sampai. Tapi, kalau sekarang susah. Kemarin saja, kita hanya bisa sampai di jalan putus saja. Kemudian, kami melihat masyarakat Kayan Hulu melansir barang kebutuhan pokok melalui jalan putus tersebut. Kasihan saya melihat masyarakat dengan kondisi seperti ini. Perjuangan untuk hidup itu sangat besar," bebernya.

"Bayangkan saja, perjalanan darat melalui jalan rusak bisa berhari-hari. Kemudian, di pertengahan jalan itu ada jalan yang sengaja diputus oleh Malaysia. Jadi, saat sudah sampai di situ masyarakat harus menurunkan barang dan memikulnya sendiri. Kendaraan pun tidak dapat lewat di jalan itu. Saya minta Pemkab Malinau segera menyelesaikan persoalan ini," lanjutnya. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help