TribunKaltim/

Petani Padi Gunung Masih Berpindah-pindah Lokasi

Biasanya, kalau lahan sawah ini lokasi tanamnya sudah pasti di lokasi yang sama. Kalau padi gunung ini, biasanya berpindah-pindah

Petani Padi Gunung Masih Berpindah-pindah Lokasi
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala dan sejumlah pejabat lainnya melakukan panen padi organik di Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Luas lahan persawahanan di Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara selama semester peertama 2017 ini telah bertambah dari 144 hektare menjadi 207 hektare. Artinya, lahan persawahan bertambah 63 hektare. Data ini belum final. Pasalnya, pada musim tanam terakhir bulan Oktober atau semester kedua 2017 mendatang diperkirakan lahan pertanian masih akan bertambah.

Pertambahan luas sawah di Malinau, berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Malinau Kota, Barat dan Utara yang akan menggelar musim tanam. Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kristian Muned mengungkapkan, 207 hektare lahan pertanian di tiga kecamatan sudah siap untuk ditanam.

"Kalau jumlah hektare perkecamatan, saya agak lupa. Tapi jumlah total semuanya ada 207 hektare. Tanam perdana telah dilakukan bulan Maret, setelah panen musim tanam bulan Oktober tahun sebelumnya, yang dilaksanakan pada Februari lalu. Keinginan kami, setelah panen langsung penanaman," ujar Muned.

Setelah panen perdana pada Februari lalu, jelas Muned, seluruh petani langsung mematangkan lahan. Terkait dengan bibit padi yang akan ditanam, selain ada bantuan dari Pemkab juga ada bibit padi yang memang sudah disiapkan oleh para petani untuk ditanam pada Maret lalu.

"Tentunya, kalau setelah panen harus mempersiapkan tanam selanjutnya. Seperti, persiapan lahan, bibit dan lain-lainnya. Jadi keinginan kita setelah panen langsung tanam tidak bisa dilakukan," bebernya.

Seluruh lahan yang siap ditanam ini, ungkap Muned, merupakan lahan pertanian dalam bentuk sawah. Sedangkan untuk padi gunung, pihaknya masih akan mendatanya kembali. Namun yang jelas, luasan lahan padi sawah dan gunung jauh berbeda.

"Biasanya lahan padi gunung ini sedikit dibanding lahan sawah. Biasanya, kalau lahan sawah ini lokasi tanamnya sudah pasti di lokasi yang sama. Kalau padi gunung ini, biasanya berpindah-pindah. Jadi, kalau sudah selesai dipanen, para petani tersebut akan berpindah ke lokasi lainnya. Nah kalau sudah seperti itu, maka luasan juga akan berubah," pungkasnya.

Tidak seperti musim tanam Oktober 2016 yang hasilnya baru bisa dipanen Februari 2017 lalu, Muned menyebutkan, pada musim tanam tahun 2017 ini pihaknya akan mengupayakan dilakukan sebanyak 3 kali dalam setahun. Muned juga menargetkan, padi yang dihasilkan pun bisa mencapai 8 ton per hektare.

"Tentu ini juga memerlukan kerja keras dari kita. Sosialisasi harus terus dijalankan. Bahkan, saya sendiri akan turun langsung ke tengah-tengah petani untuk menyosialisasikan hal ini. Masih sedikit dari petani kita yang dapat menghasilkan padi sebanyak 8 ton per hektare. Kebanyakan petani di Malinau dapat menghasilkan 3 ton perhektare," tuturnya. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help