TribunKaltim/

Enam Penerjun Kopaska Mendarat di Geladak Kapal, Ini Ritual sebelum Mereka Terjun

Enam anggota penerjun tempur (junpur) Kopaska tunai menjalankan misinya. Mereka berhasil mendarat di geladak bawah kapal KRI Teluk Banten

Enam Penerjun Kopaska Mendarat di Geladak Kapal, Ini Ritual sebelum Mereka Terjun
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Enam anggota penerjun tempur (junpur) Kopaska menjalankan misinya. Mereka berhasil mendarat di geladak bawah kapal KRI Teluk Banten yang disimulasikan sebagai Kapal Sipil MT Sangatta. 

TRIBUNKALTIM.CO - Enam anggota penerjun tempur (junpur) Kopaska tunai menjalankan misinya. Mereka berhasil mendarat di geladak bawah kapal KRI Teluk Banten yang disimulasikan sebagai Kapal Sipil MT Sangatta, Jumat (11/8) kemarin.

Usai mendarat dengan selamat, merekalah yang memegang kendali kapal tersebut untuk dibawa ke tempat lebih aman. Namun ternyata, untuk bisa mendarat di atas kapal memerlukan skill khusus. Bahkan tak banyak orang yang mampu melakukannnya, melihat posisi kefatalan kecelakaan yang tinggi.

Diperlukan keyakinan dan nyali besar melakukan pendaratan di atas kapal. Tak hanya harus cerdas membaca arah angin, ketepatan dan waktu mengambil keputusan diperlukan oleh seorang junpur.

Mereka mendarat di tempat yang bergerak, jika salah perhitungan maka kejadian gagal mendarat bisa saja terjadi.

"Terjun di kapal perlu konsentrasi lebih tinggi. Kalau di lapangan jika meleset masih mendarat di darat. Nah, kalau di kapal meleset bisa tercebur ke laut, atau mengenai bagian kapal," ujar Dantim Junpur Kopaska Serma Nav Eko Siswoyo sesaat sebelum penerjunan kepada Tribun.

Lebih jauh, mendarat di air tentu punya risiko yang mengancam jiwa, apalagi sampai menabrak bagian kapal di luar dari area pendaratan. Risiko patah tulang bahkan nyawa pun jadi taruhan. Diperlukan ketenangan dan daya konsentrasi bagi setiap penerjun tempur.

Selain parasut yang merupakan nyawa kedua Junpur Kopaska, alam menjadi hal yang tak bisa disepelekan. Bersahabat dengan alam, kata-kata itu keluar dari mulut anggota Kopaska yang telah menjadi penerjun selama 10 tahun.

"Kami mengandalkan alam, bersahabat dengannya. Bagaimana di udara, mengenali mencoba untuk saling memahami agar bisa menyelesaikan misi dengan sukses," bebernya.

Tak ada ritual khusus yang dilakukan Tim Junpur Komando Pasukan Katak (Kopaska) setiap melakukan aksi penerjunan. Demikian diungkapkan Dantim Junpur Kopaska secara eksklusif kepada Tribun.

"Gak ada mas. Hanya doa yang kami lakukan, kemudian pasrah kepada sang pemilik semesta. Dia yang punya kuasa, toh umur dan cara mati kita memang sudah dituliskan sejak kita lahir," tuturnya sambil melebarkan bibir ke samping.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help