TribunKaltim/

Kasus Formalin

Penjual Ikan Berformalin Bertambah Pedagang hanya Diberi Surat Peringatan

dari tiga pedagang yang masih menjajakan dagangannya di petak pasar khusus ikan, dua pedagang di antaranya positif menjual ikan berformalin

Penjual Ikan Berformalin Bertambah Pedagang hanya Diberi Surat Peringatan
NET
Masyarakat diminta waspada terhadap bahan makanan yang dibeli di pusat perbelanjaan. Pasalnya, petugas gabungan terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi serta Satpol PP menemukan tahu yang diduga kuat mengandung formalin. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Bukannya berkurang atau hilang sama sekali, peredaran ikan bercampur dengan formalin di Malinau malah semakin banyak. Hal ini terbukti dengan ditemukannya beberapa jenis ikan berformalin, saat inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Malinau, Kamis (10/8), pukul 18.00 di Pasar Induk Malinau Kota.

Meskipun pasar sudah sepi karena sudah memasuki malam, namun dari tiga pedagang yang masih menjajakan dagangannya di petak pasar khusus ikan, dua pedagang di antaranya positif menjual ikan berformalin.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Malinau, Erly Sumiati Frani mengungkapkan, pihaknya memang hanya melibatkan Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB). Bahkan, hanya beberapa orang pegawai Dinkes P2KB saja yang hadir dalam sidak itu. Pegawai tersebut ungkap Erly, merupakan tenaga khusus untuk melakukan pengecekan kandungan makanan.

"Kita memang sengaja hanya mengajak Dinkes P2KB saja dalam melakukan sidak ini. Sebab, mengambil pengalaman sebelumnya kita mendapati kebocoran informasi saat kita bersama banyak pihak melakukan sidak ke Pasar Induk. Sehingga, saat kita melaksanakan sidak di pasar itu semua ikan yang kita periksa tidak ada yang positif mengandung formalin," ujarnya.

"Berbeda dengan sidak yang kita lakukan kemarin. Informasi yang kami sampaikan memang terbatas. Hanya kami di Bidang Perdagangan saja dengan tim tes kandungan makanan pada Dinkes P2KB saja yang ikut dalam sidak. Alhasil, kami mendapati dua pedagang menjual ikan mengandung formalin. Padahal, saat itu sudah menjelang malam dan hanya ada tiga pedagang saja di petak ikan," lanjutnya.

Erly menjelaskan, Jumat pekan lalu pihaknya bersama beberapa pihak lainnya melakukan sidak yang sama. Waktu sidak pun, dilakukan pada subuh hari. Hal ini dimaksudkan, agar ikan-ikan yang dijual di pasar masih cukup banyak. Namun, perkiraan tersebut meleset tajam. Tim yang terdiri dari beberapa instansi tersebut tidak mendapati satupun ikan berformalin dijual.

"Diduga saat itu informasi sudah bocor. Jadi, saat kami kembali melakukan sidak, kami memilih waktu sore menjelang malam. Bahkan, waktu itu pedagang sempat melawan saat kita melakukan tes. Mereka tidak mau, ikannya dites formalin. Karena kondisi itu, barulah kami memanggil pihak kepolisian untuk mendampingi kami saat melakukan tes pada ikan-ikan," tegasnya.

Erly meminta kepada masyarakat tidak menyimpulkan semua pedagang ikan di Malinau menjual ikan berformalin. Hanya saja, Erly meminta, agar masyarakat cerdas dalam memilih ikan. Lebih banyak belajar dan membaca tampilan ikan berformalin, akan membuat masyarakat tahu ikan bercampur formalin atau tidak.

"Karena ulah beberapa pedagang nakal, yang kena semua pedagang. Inikan akan membuat para pedagang ikan di Malinau ini terkena imbasnya. Kalau masyarakat bereaksi dengan tidak membeli ikan-ikan itu lagi bagaimana? Pasar-pasar akan sepi dari pembeli. Jelas, para pedagang lah yang rugi. Ayolah kita fair saja dalam berdagang," tuturnya.

Cumi-cumi dan Bandeng
TOTAL penjual ikan berformalin saat ini menjadi dua. Awalnya, Disperindag mendapati hanya satu pedagang menjual ikan berformalin di Pasar Induk Malinau. Salah satu pedagang ikan berformalin, merupakan pemain lama. Pedagang itu, sudah mendapatkan surat peringatan dari Disperindag Malinau saat melakukan sidak bulan Juni lalu.

"Benar, kami mendapati satu pedagang ikan itu kembali menjual ikan berformalin. Padahal, dia sudah kita kasih surat peringatan dan sudah membuat surat pernyataan. Tapi dia masih mengulanginya lagi. Kemudian, kami juga mendapati satu pedagang lainnya menjual ikan berformalin. Sama dengan tindakan sebelumnya, kita memberikan mereka surat peringatan," ujar Kabid Perdagangan Disperindag Malinau, Erly Sumiati Frani saat ditemui Tribun di kantornya, kemarin.

"Ada dua jenis ikan mengandung formalin dari dua pedagang itu, setelah tim Dinkes P2KB melakukan tes dua ikan laut itu. Jenis ikan pertama, yakni cumi-cumi. Jenis ikan kedua, bandeng. Juni lalu, kita sudah lebih dahulu mendapati ikan layang berformalin dari salah satu pedagang ikan yang kita dapati lagi menjual ikan berformalin, saat sidak kemarin," lanjut Erly.

Ditanyakan mengapa tidak langsung menyerahkan persoalan ini kepada pihak kepolisian, Erly menyatakan, setelah melakukan koordinasi dengan pimpinan maka diambil langkah pemberian surat pernyataan kepada dua pedagang itu. Satu pedagang di antaranya, sudah menerima dua surat peringatan. Namun kedepannya pihaknya akan menarik pedagang itu ke jalur hukum.

"Memang seharusnya begitu. Mereka yang tertangkap menjual bahan makanan berformalin ditangkap. Sesuai aturan, mereka itu bisa dipenjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 2 miliar. Semua ikan berformalin kami sita dan langsung kami musnahkan dengan mengubur ikan berformalin itu di dalam tanah," paparnya. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help