TribunKaltim/

Dua sampai Tiga Hari setelah Bongkar, Solar Langsung Habis

Seberapa banyak sih kendaraan di Malinau ini, sampai-sampai APMS, pangkalan atau pengecer kehabisan solar. Kami lihat ada yang ganjil

Dua sampai Tiga Hari setelah Bongkar, Solar Langsung Habis
tribunkaltim.co/rudy firmanto
Informasi ketersediaan berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM), jenis solar sudah habis. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Hampir satu bulan terakhir ini Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Malinau mengalami kelangkaan. Harga jual solar pun melonjak. Dari Harga Eceran Tertinggi (HET) perliter solar seharusnya dijual Rp 6.700, namun saat kelangkaan solar bisa dijual dengan harga Rp 8.000, Rp 9.000 hingga Rp 10.000 perliter.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Emang Mering mempertanyakan adanya kelangkaan solar yang terjadi di Malinau. Sesuai kuota solar yang diberikan kepada Agen Penyalur Mintak dan Solar (APMS) dan pangkalan atau pengecer BBM di Malinau, membingungkan apabila terjadi kelangkaan solar.

"Seberapa banyak sih kendaraan di Malinau ini, sampai-sampai APMS, pangkalan atau pengecer kehabisan solar. Kami melihat ada yang ganjil soal pendistribusian solar ini ke masyarakat. Ada indikasi penyelewengan solar-solar ini. Sebab, kita lihat kondisi saat ini solar sedang kosong. Meskipun dalam beberapa waktu solar kembali akan dikirimkan," jelasnya.

Ada dua jenis solar di Malinau ini, beber Emang, jenis pertama adalah solar bersubsidi yang dijual dengan harga Rp 5.950 perliternya. Kemudian, jenis kedua solar dengan harga dari Pertamina seharga Rp 6.700. Setiap APMS bisa mendapatkan jatah solar dari Pertamina sebanyak 4 ton dalam sekali pengiriman.

"Saya juga masih mempelajari soal distribusi solar dari Pertamina kepada APMS di Malinau ini seperti apa. Tapi yang jelas, 4 ton solar akan dikirimkan setiap kali pengiriman kepada APMS. Nah, setelah pengiriman solar kepada APMS itu dalam waktu dua atau tiga hari kedepan solar sudah habis. Inikan aneh," paparnya.

Ditanyakan soal jumlah APMS di Malinau, Emang menyebutkan, ada tiga APMS yakni Beringin, Semoga Jaya dan Tengkawang. Sedangkan pengkalan atau pengecer setiap desa memiliki pangkalan atau pengecer sendiri. Jumlahnya di satu desa pun tidak tentu, tergantung dari luas desanya.

"Memang saya tidak tahu berapa kuota solar yang diberikan Pertamina kepada setiap APMS itu. Namun yang jelas, pernah saya tanyakan ya 4 ton itu setiap pengiriman. Tapi ya itu, pengakuan salah satu pemilik APMS, dua atau tiga hari buka solar 4 ton itu sudah habis terjual. Pengakuannya juga, banyak truk kelapa sawit dari luar Malinau yang beli di APMS itu," tandasnya.

Terkait hal ini, Emang akan berkoordinasi dengan instansi terkait soal distribusi solar bersubsidi di Malinau. Bagian Ekonomi Setkab Malinau lebih tahu soal distribusi solar bersubsidi ini. Kelangkaan solar akhir-akhir ini, cukup membuat produktivitas masyarakat Malinau terganggu. "Seperti saya saja, harus sangat berhemat menggunakan kendaraan saya. Sebab, kalau solar di kendaraan saya habis maka aktivitas saya akan terganggu," tuturnya. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help