TribunKaltim/

Merinding, Sebelum Tewas, Begini Isi Curhatan Johannes Marliem, Saksi Kunci e-KTP yang Tewas

Kematian Johannes Marliem, saksi kunci kasus korupsi e-KTP (KTP elektronik) menyisakan banyak misteri.

Merinding, Sebelum Tewas, Begini Isi Curhatan Johannes Marliem, Saksi Kunci e-KTP yang Tewas
Instagram/@mir_at_lgc
Johannes Marliem 

Lantaran perusahaannya berasal dari negeri Paman Sam itu pula yang menjadi alasan dia tidak bisa main suap-menyuap.

"Saya sudah pahit-pahit ngomong di depan, bahwa kami ini perusahaan Amerika. Tidak bisa cawe-cawe.

Kami tidak bisa mengeluarkan uang dari perusahaan untuk kepentingan tidak jelas," tuturnya.

Pasalnya, jika melanggar, perusahaanya akan dijerat dengan FCPA (Foreign Corrup Practice Act) dan harus membayar denda besar jika terbukti menyuap.

Baca: Menikah Bulan Maret Lalu, Kini Mantan Personel Cherrybelle Ini Kabarnya sudah Melahirkan

Baca: Jadi Sorotan Lagi hingga Trending di Google, Berikut 7 Fakta Mencengangkan Mia Khalifa

Baca: Berikut 7 Hal tentang Kekasih Ello, Ternyata Pernah Dipaksa Foto Telanjang, Nomor 5 Menyedihkan

Penerapan aturan ini serupa dengan pidana korporasi yang mulai digunakan KPK akhir-akhir ini.

Dalam kesempatan itu, Marliem juga sempat berkomentar soal kartu-kartu yang dikeluarkan pemerintah.

Seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, BPJS dan sebaginya.

Baginya, kartu tersebut hanya pemborosan anggaran karena hanya plastik yang berisi tulisan.

Sementara, e-KTP berisi data biometrik yang sangat valid.

Dengan e-KTP, pemerintah bisa memastikan jumlah anggota keluarga, berapa anak yang harus disubsidi.

"KTP-el saat ini sudah siap, mau dijadikan e-Toll bisa, jadi e-money juga bisa.

Tapi, karena di sektor-sektor itu sudah dikuasai mafia jadi pemerintah tidak berani ambil keputusan politis," katanya. (Teodosius Domina)

Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help