TribunKaltim/

Nah Lho, Kok Nama Setya Novanto Tiba-tiba Hilang di Putusan Vonis?

Kejanggalan dalam persidangan tersebut yang kemudian pada pembacaan putusan oleh majelis hakim, ternyata nama Ketua DPR RI Setya Novanto 'hilang'.

Nah Lho, Kok Nama Setya Novanto Tiba-tiba Hilang di Putusan Vonis?
KOMPAS/ WISNU WIDIANTORO
Ketua DPR Setya Novanto (kiri) seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (16/11/2015). Dalam pertemuan itu dibahas beberapa hal, termasuk klarifikasi bahwa dirinya tidak pernah menggunakan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam negosiasi PT Freeport. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Ketua Komisi Yudisial (KY) RI Aidul Fitriciada Azhari mengatakan pihaknya hanya melakukan pemantauan selama jalannya persidangan e-KTP dengan tersangka Irman dan Sugiharto.

Sehingga pihaknya tidak bisa menyimpulkan adanya kejanggalan dalam persidangan tersebut yang kemudian pada pembacaan putusan oleh majelis hakim, ternyata nama Ketua DPR RI Setya Novanto 'hilang'.

"Dalam persidangan, kita (hanya) melakukan pemantauan saja," ujar Aidul, saat ditemui di Komisi Yudisial RI, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (12/8/2017).

Baca: Tak Boleh Bertemu Tora Sudiro, Ini yang Dilakukan Mieke Amalia Setiap Hari di RSKO

Saat ditanya awak media terkait apakah KY telah menemukan kejanggalan sebelum publik ramai mempertanyakan 'hilangnya' nama Setnov, Aidul kembali menyampaikan bahwa pihaknya tidak bisa menyimpulkan hal tersebut.

"Saya tidak bisa menyimpulkan apakah ada kejanggalan atau tidak," kata Aidul.

Kendati demikian, ia menegaskan lembaga yang dipimpinnya itu sangat peduli terhadap aspirasi publik dalam penanganan kasus besar yang tengah menjadi sorotan ini.

"Tapi saya katakan bahwa memang aspirasi (publik), kita tanggap betul," tegas Aidul.

Baca: Begini Ungkapan Anies Baswedan Jika Masih Ada Warga Jakarta yang Ngomongin Pilkada

Sebelumnya, Majelis Hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi, tidak menyebutkan sejumlah nama yang sebelumnya dibeberkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam Surat Dakwaan Irman dan Sugiharto.

Nama tersebut yang secara tiba-tiba 'menghilang', yakni Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto.

Dalam pertimbangan putusan tersebut, majelis hakim yang diketuai oleh Jhon Halasan Butar-Butar hanya menyebut tiga nama yang ikut diperkaya dalam proyek senilai Rp 5,9 miliar itu.

Baca: Nekat, Seorang Wanita Telanjang di Jalan Ir Juanda Samarinda, Ini yang Dimintanya

Ketiga nama tersebut yakni politisi Hanura Miryam S Haryani, politisi Golkar Markus Nari serta Ade Komarudin. (Tribunnews/Fitri Wulandari)

Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help