TribunKaltim/

Kelangkaan BBM

BBM Bersubsidi Terlambat Datang Masyarakat Terpaksa Beli BBM Industri

Memang agak susah pengiriman solar saat ini. Saya juga tidak tahu mengapa. Hanya saja, alasan yang disampaikan kepada kami ya karena transportir

BBM Bersubsidi Terlambat Datang Masyarakat Terpaksa Beli BBM Industri
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Ilustrasi: Antrean di sejumlah SPBU kembali terjadi, penyebabnya ada kendala teknis dari kapal pengangkut BBM sehingga terjadi keterlambatan distribusi ke SPBU. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Satu-satunya harapan masyarakat Malinau Provinsi Kalimantan Utara apabila terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) adalah membeli BBM non subsidi di Perusda Intimung. Namun, persoalan kelangkaan solar di Malinau kali ini Perusda Intimung tidak dapat berbuat apa-apa. Pasalnya, pesanan solar perusahaan plat merah ini pun terkendala pengiriman.

Direktur Perusda Intimung, Lewi Mawa mengungkapkan, tidak dapat memenuhi harapan masyarakat Malinau. Meskipun, solar di Perusda Intimung dijual seharga Rp 10 ribu per liternya, namun solar pun tidak ada di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS). Kondisi saat ini, berbeda dengan kondisi-kondisi sebelumnya.

"Kalau sebelum-sebelumnya, saat jatah BBM subsidi di APMS lainnya sedang kosong kita masih bisa menanggulanginya. Pesanan BBM kami datang tepat waktu. Sebab, kita membeli solar non subsidi dari Pertamina. Jadi, seberapapun banyaknya kita pesan Pertamina akan mengirimkannya kepada kami. Tapi, kali ini tidak seperti biasanya," paparnya.

Lewi mengungkapkan, sesuai informasi dari agen Pertamina, pengiriman solar ke Malinau sangat sulit. Kiriman solar harus mengantre dengan daerah-daerah lainnya di Kalimantan Utara (Kaltara), Lewi menyatakan, setelah 8-10 hari pemesanan barulah solar dikirimkan.

"Memang agak susah pengiriman solar saat ini. Saya juga tidak tahu mengapa. Hanya saja, alasan yang disampaikan kepada kami ya karena transportir tidak dapat melakukan pengiriman sesuai pesanan. Itulah yang membuat solar di APMS kami juga kosong. Padahal, kita memesan bukan hanya dari Kota Tarakan saja, kita juga memesan dari Kabupaten Berau," tandasnya.

Lewi juga bingung memikirkan kelangkaan solar di Malinau. Pasalnya, setiap APMS mendapatkan jatah solar subsidi sebanyak 40 ton dalam sekali pengiriman. Dalam sebulan, ada dua kali pengiriman dengan jumlah sama. Tapi, kelangkaan solar masih juga terjadi.

"Itulah saya tidak habis pikir. Mengapa solar sering kosong. Sehari dua hari solar subsidi di APMS lainnya itu sudah kehabisan. Padahal, kalau dilihat-lihat, tidak banyak kendaraan yang menggunakan bahan bakar solar. Biasanya, kalau sudah kosong seperti itu, masyarakat membeli solar non subsidi kepada kami," bebernya.

Lewi menuturkan, Perusda Intimung mendapatkan empat kali pengiriman dalam sebulan dari Pertamina. Setiap kali pengiriman, Perusda Intimung mendapatkan jatah 20 ton BBM. Sehingga, dalam sebulan, pihaknya menerima 80 ton BBM. Karena harga solar berbeda jauh dengan solar subsidi, solar di Perusda Intimung bertahan lebih lama.

"Ya seperti saya bilang tadi, kami ini alternatif terakhir kalau solar subsidi sudah habis. Kita jual Rp 10 ribu perliter. Kalau solar non subsidi kan dijual paling mahal Rp 6.700 perliter. Kalau harga aslinya solar subsidi kan Rp 5.950 perliter. Untuk diketahui juga 80 ton BBM itu jumlah keseluruhan dari solar, bensin dan minyak tanah. Datangnya sesuai dengan pemesanan kita," tuturnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help