TribunKaltim/

Waduh, Wali Kota dan Wawali Balikpapan Tergabung di Grup Facebook Saracen, Kok Bisa?

Dari keterangan polisi, kelompok ini membuat produk sesuai dengan permintaan dari pihak yang memesannya.

Waduh, Wali Kota dan Wawali Balikpapan Tergabung di Grup Facebook Saracen, Kok Bisa?
Facebook
Grup facebook Saracen Cyber Team 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kasus penyebaran ujaran kebencian dan konten SARA yang dilakukan oleh sindikat Saracen menjadi booming.

Sejak tiga dedengkotnya ditangkap, sejumlah fakta-fakta tentang Saracen pun muncul ke permukaan.

Ternyata sindikat ini tidak hanya sekadar menebar kabar bohong dan isu-isu provokatif, tapi lebih dari itu, ada bisnis yang menggiurkan.

Baca: 3 Dedengkot Saracen Punya Kecerdasan di atas Rata-rata, ini Penyebabnya

Dari keterangan polisi, kelompok ini membuat produk sesuai dengan permintaan dari pihak yang memesannya.

Jaringan Saracen biasanya menggunakan proposal terkait paket ujaran kebencian yang ditawarkan kepada pemesan.

"Dalam satu proposal yang kami temukan, itu kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah," ungkap Kasubdit 1 Dit Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, AKBP Irwan Anwar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (23/8/2017), seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Tiga tersangka anggota kelompok Saracen, penyedia jasa penyebar ujaran kebencian atau hate speech untuk menyerang suatu kelompok tertentu, yakni JAS, SRN, dan MFT (baju tahanan warna oranye) dihadirkan saat rilis kasus di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (23/8/2017).
Tiga tersangka anggota kelompok Saracen, penyedia jasa penyebar ujaran kebencian atau hate speech untuk menyerang suatu kelompok tertentu, yakni JAS, SRN, dan MFT (baju tahanan warna oranye) dihadirkan saat rilis kasus di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (23/8/2017). (Repro/KompasTV)

Cara kerja Saracen sangat terorganisir dalam menyebarkan konten-konten berbau ujaran kebencian di media sosial.

Dimulai dari pembuatan meme yang dapat berbentuk pranala, video, gambar, laman web, tagar, atau kata-kata.

"Meme itu lalu ditampung di dalam satu grup. Nanti membuat meme lagi lalu dibuat grup lagi," ujar Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri, Kombes Pol Awi Setiyono, di Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Halaman
1234
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help