TribunKaltim/

BPBD tak Berdaya Cegah Warga Bakar Lahan untuk Menanam Padi

Kalau kita minta mereka untuk tidak membakar lahan, kita yang dimarahi. Dalih petani, ini cara lama yang masih diterapkan.

BPBD tak Berdaya Cegah Warga Bakar Lahan untuk Menanam Padi
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Kondisi hutan yang ada di Kampung Karang Tigau, Desa Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Tampak pohon-pohon banyak yang tumbang seperti habis dibakar. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Memasuki akhir Agustus, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Malinau membakar lahan untuk pertanian. Bukan hanya lahan pertanian dengan model sawah. Sejak dahulu, masyarakat telah mengenal pertanian di daerah perbukitan. Untuk melakukan pematangan lahan, petani pun biasa membakar lahan.

Menyikapi kebiasaan petani membakar lahan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengaku tidak berdaya dan tidak sanggup menahan masyarakat untuk tidak menggunakan cara membakar untuk pematangan lahan pertanian. Persoalan pertama yang dihadapi BPBD, bahwa cara ini merupakan cara orang tua terdahulu mempersiapkan lahan pertanian.

Kepala BPBD Malinau, Elisa mengungkapkan, pihaknya telah mendapatkan surat dari Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim untuk mengantisipasi dan waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan. Namun, Elisa menyatakan, pihaknya tidak bisa menahan masyarakat untuk tidak membakar lahan pertanian dan terpaksa membiarkan petani membakar lahan.

"Kalau kita minta mereka untuk tidak membakar lahan, kita yang dimarahi sama mereka. Dalih petani, ini cara lama yang hingga kini masih diterapkan. Apalagi, kalau sudah memasuki Agustus. Bulan inikan memang waktunya membakar lahan, karena ini masuk musim kemarau. Setelah membakar ladang, sehari atau dua hari kemudian petani menanam padi," jelasnya.

Ketakutan selama ini, jelas Elisa, pembakaran lahan oleh petani dapat merembet ke area hutan dan permukiman. Namun selama pembakaran lahan pertanian di Malinau tidak pernah terjadi kasus terbakarnya hutan dan permukiman warga. Sebab, petani mengawasi pembakaran lahan.

"Tidak ada kasus kebakaran hutan dan permukiman, karena petani membakar lahan pertanian. Para petani selalu menjaga lahan yang dibakar agar tidak merambat ke mana-mana. Selain itu, lahan yang dibakar juga tidak besar. Paling luas ya dua hektare saja. Jadi, ketakutan Dishut Prov Kaltim bisa teratasi dengan sikap bertanggungjawab petani," ujarnya.

Pernah, beber Elisa, pihaknya mengatur jadwal pembakaran lahan pertanian. Namun, cara tersebut tidak efektif dijalankan. Sebab, para petani tidak mengikuti cara yang ingin diterapkan oleh BPBD. Alhasil, cara tersebut tidak pernah dilakukan. Sehingga, saat ini hampir bersamaan seluruh petani membakar lahan pertanian.

"Terutama ladang pertanian di perbukitan. Secara bersamaan, petani membakar lahan. Tidak bisa kita jadwalkan per-kecamatan membakar pada hari apa dan minggu keberapa. Sebab, mereka menganggap cuaca di Malinau ini tidak dapat diprediksi. Kadang-kadang hari panas, besok sudah hujan. Jadi, saat cuaca sedang panas mereka membakar lahan," tuturnya.

Akibat pembakaran lahan pertanian sesuai pantauan Tribun di lapangan, sekitar wilayah pusat pemerintahan diselimuti kabut asap hasil pembakaran. Sesuai dengan pendataan BPBD, ada 4 kecamatan di sekitar pusat pemerintahan membakar lahan pertanian. Seperti di Kecamatan Malinau Selatan, Barat, Utara, Kota dan Mentarang. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help