TribunKaltim/
Home »

Opini

Hikmah Idul Adha

Dua Teladan Kurban

HARI Raya Idul Adha adalah hari raya besar atau akbar setelah Hari Raya Idul Fitri. Bedanya Idul Fitri dirayatan setelah menjalankan ibadah puasa

Dua Teladan Kurban
tribunkaltim.co/rafan arif dwinanto
Ketua MUI Kaltim, Hamri Haz 

Oleh: KH Hamri Has, Ketua MUI Kaltim

TRIBUNKALTIM.CO - HARI Raya Idul Adha adalah hari raya besar atau akbar setelah Hari Raya Idul Fitri. Bedanya Idul Fitri dirayatan setelah menjalankan ibadah puasa selama sayu bulan.

Ada dua pengorbanan yang harus dikenang dan diteladani saat Idul Adha. Pengorbanan pertama yakni dua anak Nabi Adam, Habil dan Kabil. Saat itu, belum ada manusia lain. Nabi Adam selalu dikaruniai anak kembar berpasangan tiap kali lahir. Perempuan dan laki-laki.

Saat itu, aturan nikahnya harus disilang. Kabil menikahi kembaran Habil, dan sebaliknya. Tapi, diantara Kabil dan Habil ada yang tidak bersepakat dengan aturan itu. Kemudian, keduanya diminta berkurban seekor kambing.

Siapa yang kambingnya dijilat api dari langit, dia yang berhak atas perempuan tersebut. Dan ternyata, kurban terbaik yang diambil. Karena ada salah satu yang tidak terima, akhirnya terjadilah pembunuhan. Ini merupakan pembunuhan pertama di dunia.

Hikmah yang bisa diambil dari cerita tadi, siapa yang berkurban lebih banyak, dialah yang akan berhasil.

Peristiwa pengorbanan kedua datang dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim bersama istrinya lama mengidamkan anak. Begitu dikaruniai anak, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim mengasingkan istri dan anaknya yang baru lahir ke suatu tempat yang sekarang bernama Mekah.

Nabi Ibrahim pun membawa istri dan Ismail yang masih bayi ke Mekah. Saat itu, Mekah belum berpenghuni. Sesampainya di Mekah, Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya dengan bekal beberapa buah kurma dan sekantong air.

Sesaat sebelum pergi, Siti Hajar bertanya kepada Nabi Ibrahim. "Apakah kamu akan meninggalkan kami," tanya Siti Hajar kepada Ibrahim. Pertanyaan demikian diulang Siti Hajar hingga tiga kali, lantaran tidak mendapat jawab dari Nabi Ibrahim.

Selanjutnya, Siti Hajar kembali bertanya kepada Ibrahim, suaminya. "Apakah ini perintah Allah," tanya Siti Hajar. Nabi Ibrahim pun membenarkan. "Kalau ini perintah Allah, maka kami yakin Allah tidak akan meninggalkan kami," kata Siti Hajar. Ibrahim pun lantas pergi meninggalkan keduanya di padang tandus.

Halaman
123
Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help