TribunKaltim/

Keguguran Karena Dianiaya, Istri Staf Bea Cukai Lapor Komnas Perempuan dan Dirjen

"Laporan yang masuk kepada kami Jumat kemarin itu, penganiayaan tersebut mengakibatkan keguguran,"

Keguguran Karena Dianiaya, Istri Staf Bea Cukai Lapor Komnas Perempuan dan Dirjen
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunKaltim.co, Niko Ruru

TRIBUNKALTIM.CO,NUNUKAN - SS menempuh segala cara untuk mencari keadilan atas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya.

Selain menempuh langkah hukum dengan melaporkan kasus penganiayaan yang dialaminya ke Polisi, dia juga membuat laporan ke Direktur Jenderal Bea dan Cukai hingga Ke Komisi Nasional Perlindungan Perempuan.

Baca: Satu Jamaah Haji Kukar Meninggal Dunia

"Laporan yang masuk kepada kami Jumat kemarin itu, penganiayaan tersebut mengakibatkan keguguran,"ungkap Ari Sugiwastuti, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Nunukan, Selasa (12/9/2017).

Baca: Presiden Baru Singapura Ternyata Mantan Penjual Nasi Padang, Simak Perjalanan Hidupnya

Istri Staf Pelaksana pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Nunukan itu mengaku, penganiayaan yang dilakukan suamnya telah menyebabkan kepalanya bocor.

“Sebagai unsur P2TP2A kami akan melakukan pendampingan sampai proses hukum yang ditempuh SS usai,” ujarnya.

Baca: Gara-gara ini Ibu Rumah Tangga Nekat Gorok Leher Sendiri

Menurutnya, laporan dimaksud telah ditindaklanjuti Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Nunukan.
“Penganiayaan ini termasuk ekstrim kalau lihat bukti foto. Cuma nanti kami juga akan melihat hasil visum dan proses Polisi seperti apa?” ujarnya.

Sesuai prosedur, kata dia, Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak melakukan pendampingan juga pelayanan dengan menjaga kerahasiaan.

Baca: ‎Sidang Pemerasan di TPK Palaran, Hakim Cecar Bendahara Koperasi PDIB

“Setelah aduan masuk, maka itu akan ditampung untuk verifikasi. Lalu akan dilakukan rehabilitasi medis, therapy psikologis barulah melangkah ke arah pendampingan hukum,” ujarnya.

Sepanjang tahun ini hingga September, pihaknya baru menerima satu aduan KDRT. Kasus yang justru mengalami peningkatan yakni asusila pencabulan anak.

“Tahun 2016 terdapat 4 kasus dengan 19 korban sedangkan tahun 2017 ini tercatat 17 kasus,” ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help