TribunKaltim/
Home »

Opini

Dulu Curi Pohon dan Kini Juragan Perahu

Penebang Kayu Ilegal Banting Setir Jadi Juragan Perahu Pompong Dengan Omzet Rp 250 Juta/Bulan

Tindak kriminalitas umumnya banyak dilatarbelakangi faktor ekonomi, salah satunya karena tidak tersedianya lapangan kerja.

Penebang Kayu Ilegal Banting Setir Jadi Juragan Perahu Pompong Dengan Omzet Rp 250 Juta/Bulan
(Dimas Wahyu)
Mahyudin berdiri di atas salah satu perahu yang ia sewakan kepada Riau Andalan Pulp and Papper. Tak lagi mencuri kayu, kini ia mendapat kesempatan kerja sama dengan RAPP juga bantuan pinjaman modal usaha 

TRIBUNKALTIM.CO – Tindak kriminalitas umumnya banyak dilatarbelakangi faktor ekonomi, salah satunya karena tidak tersedianya lapangan kerja. Namun dengan tekad baja dan usaha yang keras, pelaku kejahatan dapat mengubah jalan hidupnya. Satu di antaranya adalah Mahyudin Batubara.

Pria berusia 42 tahun warga Pelalawan, Riau, ini pada tahun 2005 tertangkap melakukan pengambilan kayu secara ilegal.

Namun, roda nasib berbalik. Dua belas tahun kemudian, dia menjadi juragan perahu pompong dengan omzet Rp 250 juta per bulan.

"Awalnya, saya di sini ketika pembalakan liar belum dilarang. Sekarang ini Pelalawan sudah menjadi kelurahan, wilayah Sungai Hulumpaya dan Sungai Bandar ini kalau dulu orang bilang tempatnya 'cari nafkah' dengan ambil kayu, rotan, dan ikan," ujarnya.

Saat itu, ia mengandalkan permintaan kayu dari tauke yang mau membayar Rp 100 juta untuk sekian banyak pesanan, lalu mengantarkannya dengan perahu melewati kanal atau sungai-sungai kecil di antara hutan.

Pesanan semacam ini diakuinya tidak datang tiap waktu, dan uang pun harus dibagi ke banyak orang.

"Setelah tahun 2004 tak bisa lagi (asal ambil kayu). Lalu kami datang ke perusahaan, minta apa yang bisa kami kerjakan," akunya kemudian mendatangi perusahaan yang hutannya kerap ia rambah, yakni PT Riau Andalan Pulp & Paper ( RAPP), produsen kertas yang beroperasi di Pangkalan Kerinci, Riau.

Tak diduga, saat itu Mahyudin diajak jalan-jalan oleh perwakilan perusahaan yang ia sebut Pak Flores. Ia dibawa keliling dengan mobilnya untuk melihat apa yang mungkin bisa dikerjakan Mahyudin dan rekan-rekannya yang senasib.

"Lalu saya bilang, ya sudah, saya yang (bantu) bongkar muat di sini karena kan transportasinya pakai (perahu) pompong. Itu biasa dengan kegiatan kami sehari-hari. Alhamdulillah bisa saling sinergi. Kami butuh uangnya, mereka butuh jasanya," ungkapnya.

Terpukul

Halaman
123
Editor: Maturidi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help