TribunKaltim/

Terlalu Bergantung pada Batubara, Kinerja Ekonomi Kabupaten Menurun

Disebutkannya, jumlah penduduk miskin pada tahun 2016 sebesar 5,37 persen dari jumlah penduduk.

Terlalu Bergantung pada Batubara, Kinerja Ekonomi Kabupaten Menurun
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
PEREKONOMIAN - Lebih dari separuh PDRB Kabupaten Berau berasal dari sektor pertambangan. Saat harga komoditas batubara anjlok, berdampak signifikan terhadap perekonomian di wilayah ini. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekonomi Kabupaten Berau mengalami penurunan. Hal ini dilihat dari pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2015 hingga 2016 mengalami perlambatan hingga 6,03 persen.

Di tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Berau menurun -1,70 persen. “Ekonomi Kabupaten Berau cenderung melambat, hingga mengalami kontraksi ditahun 2016. Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi sejak 2011 sebesar 21.75 persen mengalami perlambatan hingga 6,03 persen pada 2015 dan mengalami kontraksi atau penurunan di 2016,” jelas Kepala BPS Berau, Hotbel Purba.

Terjadinya kontraksi ekonomi, menurutnya disebabkan oleh ketergantungan terhadap sektor pertambangan. “Harga batubara jatuh di tahun 2015 dan tahun 2016, karena masih bergantung pertambangan berpengaruh terhadap Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Ditambahkannya, PDRB Kabupaten Berau, lebih dari 50 persen berasal dari DBH royalti produksi tambang batubara.

Anjloknya harga emas hitam ini, berdampak terhadap ekonomi Berau secara umum. Meski demikian, pihaknya meyakini, mulai tahun 2017 ini, harga batubara akan kembali mengalami kenaikan.

“Seperti yang disampaikan bapak Bupati pada saat hari jadi Berau, kondisi pertambangan batubara ditahun 2017 ini mengalami peningkatan dan diharapkan berdampak kepada ekonomi Berau, disamping juga peningkatan di sektor lainnya,” ungkapnya.

Masih dalam kinerja perekonomian Kabupaten Berau, Hotbel Purba juga menyinggung masalah kemiskinan.
Disebutkannya, jumlah penduduk miskin pada tahun 2016 sebesar 5,37 persen dari jumlah penduduk. Dirinya juga menjabarkan lebih detil masalah kemiskinan ini, seperti indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 0,97.

Serta indeks keparahaman kemiskinan (P2) sebesar 0,23 persen, dimana ketimpangan rata-rata pengeluaran antara penduduk miskin Kabupaten Berau tahun 2016 dibanding dengan tahun 2015 semakin kecil.

Meski kinerja ekonomi menurun, namun dirinya juga memberikan apresiasi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Berau, yang pada tahun 2016 berada di 73,05 masuk dalam kategori tinggi.

Di Kaltim, IPM Berau berada diurutan keempat setelah Bontang 78,92, Samarinda 78,911 dan Balikpapan 78,57. Lebih lanjut Hotbel Purba, membeberkan dari tahun 2010 IPM Berau berada di 69,16 dan naik di tahun tahun 2011 menjadi 70,43.

Seterusnya meningkat pada tahun 2015 berada di 72,72. IPM merupakan gambaran kondisi penduduk yang dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help