Oknum Guru Gunakan Aplikasi Ponsel Cetak E-KTP Palsu

Jadi setelah menerima laporan, kita langsung melakukan penyelidikan. Pemilik e KTP palsu, menunjukkan ke tersangka.

Oknum Guru Gunakan Aplikasi Ponsel Cetak E-KTP Palsu
TRIBUN KALTIM/MARGARET SARITA
E-KTP PALSU - Kasatreskrim AKP Andika Dharma Sena membeberkan kasus dugaan e KTP palsu yang melibatkan guru SD di Kecamatan Bengalon, berikut barang bukti yang berhasil disita di rumah tersangka 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Masalah dugaan pemalsuan KTP elektronik yang dilakukan Bn, oknum guru SD di Kecamatan Bengalon, masih terus dalam pengembangan tim penyidik Polres Kutim.

Karena, belakangan tidak hanya ditemukan e KTP dan Kartu Keluarga (KK) palsu, tapi polisi juga menemukan ijazah dari beberapa sekolah di luar Kaltim dan SIM BII. Semua dicetak berwarna seolah-olah asli.

Kapolres Kutai Timur AKBP Rino Eko didampingi Kasatreskrim AKP Andika Dharma Sena mengatakan saat ini tim penyidik tengah merampungkan pemberkasan soal kasus e KTP palsu yang dilaporkan oleh Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kutai Timur. Tentang temuan surat-surat lainnya yang diduga palsu, masih dalam pengembangan.

Dari hasil penyidikan di lapangan, aparat juga menemukan beberapa lembar hasil print blanko e KTP yang siap diisi nama dan dicetak. Sedangkan untuk e KTP yang sudah tersebar, ada sekitar 22 lembar dan semuanya sudah diamankan sebagai barang bukti.  

“Jadi setelah menerima laporan, kita langsung melakukan penyelidikan. Pemilik e KTP palsu, menunjukkan ke tersangka. Ketika yang kami temukan tidak hanya e KTP palsu, tapi ada beberapa surat penting lainnya, kita akan kembangkan lagi. Pastinya, untuk masalah e KTP palsu, tersangka kami jerat menggunakan undang undang nomor 23 tahun 2006 pasal 96 a dan c tentang administrasi kependudukan. Dengan ancaman hukuman 10 tahun pidana kurungan,” ujar Andika.

Untuk ijazah, kata Andika, penyidik akan memastikan ke sekolah yang tertera di ijazah tersebut, apakah benar pernah mengeluarkan ijazah tersebut. Begitu juga untuk SIM BII, akan dicek siapa saja di seputaran lokasi bekerja yang menggunakan SIM BII buatan tersangka.

“Karena tersangka mengaku, SIM tersebut digunakan sebagai syarat untuk mencari pekerjaan. Tentu saja berbahaya. Karena kualifikasi memperoleh SIM BII juga tidak mudah. Ini terkait jenis kendaraan dan kemampuan seseorang berkendara. Jadi akan kita telusuri,” kata Andika.

Ditemui di Polres Kutim, tersangka Bn mengaku sudah membuat e KTP sejak Juli 2016 lalu. Alasannya, karena proses pembuatan e KTP tidak semudah sebelumnya. Selain lama, juga membutuhkan persyaratan berupa surat pindah.

“Banyak keluarga saya tinggal di rumah. Saya tidak mampu kalau mereka tidak bekerja. Mau bekerja tidak punya identitas. Tidak bawa surat pindah. Jadi, saya buat sendiri e KTP menggunakan program di ponsel, kemudian dicetak. Untuk sementara mencari kerja di kebun sawit, sambil menunggu proses pembuatan e KTP yang asli,” ungkap Bn.

Namun, belakangan kebutuhan e KTP buatan sendiri itu, tidak hanya dari kalangan keluarga saja. Tetapi juga lingkungan sekitar dan menyebar ke beberapa pendatang lainnya. Begitu juga seiring kebutuhan persyaratan kerja, produk surat yang dihasilkan juga meningkat.

Hingga akhirnya bisa mencetak KK, ijazah bahkan SIM. “Untuk e KTP saya minta biaya cetak antara Rp 100.000 sampai Rp 300.000. Tapi untuk surat lainnya, saya tidak memasang tarif. Seiklasnya saja,” ujar Bn.

Ia juga mengaku tidak ada peran orang lain dalam produk palsunya tersebut. Ia belajar sendiri menggunakan program di ponsel dengan menirukan produk asli. Kemudian menghapus beberapa bagian yang perlu diisi dengan nama orang yang ingin membuat e KTP. (*)


Penulis: Margaret Sarita
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved