TribunKaltim/

Satreskoba Koodinasi Bersama Apotek Cegah Penyalahgunaan Obat dan Alkohol

“Seperti anak-anak yang membeli sirup obat batuk, alkohol dalam jumlah banyak,” kata Kasatreskoba, AKP Tatok Triharyanto.

Satreskoba Koodinasi Bersama Apotek Cegah Penyalahgunaan Obat dan Alkohol
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
TERBITKAN LARANGAN - Setelah menerbitkan edaran tentang larangan penjualan inhalen atau lem di kalangan anak dan remaja. Pemkab Berau juga diharapkan menerbitkan edaran yang sama kepada pengelola apotek. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Jajaran Satreskoba Polres Berau menggelar pertemuan dengan sejumlah pengelola apotek.

Pertemuan itu bertujuan untuk menyampaikan sosialisasi untuk mempekerjakan tenaga ahli farmasi di apotek, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang Kesehatan. Mencegah kesalahan pelayanan farmasi.
Selain itu, pertemuan juga untuk mengingatkan pengelola apotek agar tidak melayani pembeli obat yang mencurigakan.

“Seperti anak-anak yang membeli sirup obat batuk, alkohol dalam jumlah banyak,” kata Kasatreskoba, AKP Tatok Triharyanto.

Diakuinya, selama ini pihaknya kerap menerima aduan tentang penyalahgunaan lem, obat batuk, alkohol medis namun dioplos menjadi minuman keras, bahkan pembelian kondom oleh anak di bawah umur.

“Tapi kami tidak bisa menindak, hanya bisa memberikan pembinaan, karena aturannya memang belum mendukung untuk itu,” ujarnya.

Penyalahgunaan sirup obat batuk, alkohol, lem dan sebagainya tidak termasuk tindak pidana, namun bisa membahayakan kesehatan anak-anak yang mengonsuminya, baik secara oral maupun inhalen.

“Karena itu, langkah atinsipasi adalah dengan berkoordinasi dengan apotek,” imbuhnya.
Sejauh ini memang tidak ada aturan yang jelas untuk menghindari penyalahgunaan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran, termasuk di apotek.

“Tapi sudah ada beberapa apotek yang meminta kartu identitas bagi pembeli yang dianggap mencurigakan atau janggal,” katanya lagi.

Selain itu, Pemkab Berau juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 465/25/BID PKA-BPPKB/1/2016 tentang larangan penjualan inhalen atau lem di kalangan anak dan remaja. Surat edaran ini dibuat berdasarkan fakta tingginya penyalahgunaan inhalen atau lem di kalangan anak-anak dan remaja.

Dalam surat edaran tersebut, ada tiga poin penting yang harus diperhatikan oleh pemilik toko yang menjual bahan-abahan mengandung inhalen. Pertama, pemilik atau karyawan toko dilarang menjual inhalen atau lem secara bebas khususnya terhadap anak-anak dibawah usia 18 tahun.

Kedua, jika petugas penyidik, baik polisi maupun Satpol PP menemukan anak-anak yang menyalahgunakan lem dan ditelusuri hingga menemukan toko penjualnya, maka pemilik toko atau karyawan toko akan dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

Ketiga, pemerintah secara spesifik menyebutkan beberapa merek lem yang dipercaya memiliki kandungan inhalen yang berbahaya untuk kesehatan dan dilarang dijual kepada anak dibawah usia 18 tahun, yakni lem fox dan castol.

Dengan demikian, pemilik atau karyawan toko bisa meminta KTP atau kartu identitas lain bagi pembeli lem yang mengandung inhalen, atau minimal melihat secara fisik apakan pembelinya tergolong anak-anak, remaja atau orang dewasa.

Tatok berharap, Pemkab Berau juga menerbitkan edaran yang sama kepada pengelola apotek. Berdasarkan Peraturan Daerah nomo12 tahun 2014 tentang perlindungan anak, pemerintah bersama aparat penegak hukum, LSM dan organisasi sosial dan masyarakat umum, bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak, termasuk anak-anak dan remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya, termasuk inhalen yang terkandung di dalam lem. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help