TribunKaltim/

Mungkin Nanti Dilirik Parpol, Politisi PDIP Sebut Panglima Gatot Berpolitik Gaya Erdogan dan Trump

Gatot dinilai sama seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atau Presiden AS Donald Trump soal bagaimana menempatkan diri dalam isu-isu populer

Mungkin Nanti Dilirik Parpol, Politisi PDIP Sebut Panglima Gatot Berpolitik Gaya Erdogan dan Trump
KOMPAS.com/Nabilla Tashandra
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo seusai memberikan materi pada acara Rapimnas Partsmai Hanura di Kuta, Bali, Jumat (4/8/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira melihat, tindakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menuai kontroversi, beberapa waktu belakangan, mirip seperti trend kepemimpinan sejumlah tokoh negara di dunia.

Gatot dinilai sama seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atau Presiden AS Donald Trump soal bagaimana menempatkan diri dalam isu-isu populer di masyarakat.

"Kalau kita perhatikan, populisme menjadi fenomena sosial politik di dunia dan trend ini terjadi juga di Indonesia lewat gejala individu. Trend ini terjadi pada Pak Gatot," ujar Andreas dalam sebuah diskusi di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (5/10/2017).

Gatot dinilai tampil paling depan dalam sejumlah isu. Misalnya, soal kasus penodaan agama, dugaan makar, kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga isu 5.000 senjata ilegal. Ia mempersepsikan diri di publik seolah-olah sedang membela kepentingan masyarakat.

Soal apakah hal itu untuk meraih simpati rakyat demi perebutan kursi presiden, Andreas mengaku, belum bisa menyimpulkannya. Namun, apa yang dilakukan Gatot saat ini, lanjut Andreas, jelas memberikan implikasi politik.

"Mungkin nanti dia akan dipanggil partai politik yang mempersiapkan karpet merah untuk beliau tampil di Pemilu, saya tidak tahu. Tapi yang jelas dia menampilkan diri pada isu-isu populer," ujar dia.

Di sisi lain, apa yang dilakukan Gatot pun berimplikasi pada rakyat, termasuk internal TNI. Rakyat ada yang suka, tidak sedikit pula yang tidak suka. Begitupun internal TNI sendiri.

"Mungkin Panglima punya agenda. Mungkin ya. Saya tidak mau spekulasi juga. Ya apa lagi? Menggunakan institusi negara, media dan lain-lain membuat dirinya semakin populer, semakin melejit," ujar Andreas.

Ujung-ujungnya, lanjut pria yang juga menjabat senagai anggota Komisi I DPR, rakyat pula yang menentukan apakah akan memilih sosok Gatot atau tidak. Apapun kepentingan Gatot, dia tetap menghadapi persepsi di publik, baik pro atau kontra.

Seperti Agus, Keluar Dulu, Baguslah

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help