TribunKaltim/

Gasing, Permainan Tradisional Kutai mulai Dilirik Masyarakat

DEWASA ini permainan gasing tidak hanya diminati kaum pria, tapi perempuan pun mulai melirik permainan tradisional ini.

Gasing, Permainan Tradisional Kutai mulai Dilirik Masyarakat
Tribun Kaltim/Rahmad Taufik
Permainan tradisional gasing di Tenggarong Fair 2017. 

TRIBUNKALTIM.CO - DEWASA ini permainan gasing tidak hanya diminati kaum pria, tapi perempuan pun mulai melirik permainan tradisional ini. Anak-anak hingga orang dewasa menyukai permainan yang sempat tenggelam di tengah serbuan gadget.

LEWAT ajang Festival Kota Raja (FKR) VI di Tenggarong, permainan gasing kembali diperkenalkan. Masyarakat bisa menyaksikan langsung berbagai jenis gasing yang dipamerkan di Tenggarong Fair, di halaman parkir Stadion Rondong Demang.

Komunitas Keroan Begasing Kutai hadir mempertahankan permainan tradisional yang nyaris punah. "Anak-anak sekarang lebih menyukai gadget, padahal gasing ini tak sekadar permainan, tapi juga olahraga ketangkasan," kata Dani, Ketua Keroan Begasing Kutai.

Baca: Apes, PSK Dibayar Pelanggannya Pakai Uang Palsu

Permainan gasing sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Kutai. Gasing sendiri dibuat dari kayu Banggeris. Proses pembuatannya cukup singkat hanya berlangsung 10 menit jika menggunakan mesin bubut. Namun kalau dibuat melalui proses manual memakan waktu hingga satu hari.

Pemilihan bahan baku dari kayu Banggeris ini memiliki karekteristik lebih kuat dibandingkan dengan kayu ulin. Maklum, permainan gasing aduan ini harus mengutamakan kekuatan agar gasing tidak mudah pecah saat dibenturkan.

Jenis kayu banggeris ini sendiri dibedakan lagi 3 macam, yakni tanduk, lilin dan jeltang. Jenis tanduk ini memiliki kualitas lebih bagus, tak heran kalau gasing jenis ini dibandrol harga lumayan mahal.

Harga satu buah gasing dijual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta. Permainan ini tak pernah lepas dari tali untuk memutar gasing. Tali ini bisa terbuat dari kulit kayu jomok, rafia hingga akar kayu.

Pada pameran Tenggarong Fair, enam jenis gasing ikut dipamerkan, seperti pelele, pendada, buong, perangat, bengor dan tungkul. "Gasing jenis pendada ini memiliki 2 kepala. Fungsi beberapa jenis gasing ini bisa untuk aduan dengan cara ditubrukkan atau lama-laman berputar," tuturnya.

Baca: Niatnya Curhat, Artis Ini Justru Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik Travel Haji

Permainan gasing ini juga sering dilombakan dalam setiap ajang Erau. Dalam empat tahun terakhir, Dani juga membuat produk gasing sendiri di rumahnya. Hasil produknya ini dipajang di Rumah Budaya Kutai sekaligus Sekretariat Keroan Begasing Kutai, Jalan Mulawarman Tenggarong.

Bahkan beberapa produk gasingnya dipasarkan ke Inggris. "Ada rekan guru yang membawa gasing buatan saya ke Inggris. Warga Inggris juga menyukai gasing buatan kami," kata Dani. Ia juga mengajak siapapun bisa bergabung dalam komunitas Keroan Begasing Kutai.

Baca: Pelamar Mesti Hadir 90 Menit Sebelum Ujian Dimulai

"Kami siap mengajarkan mereka bermain gasing. Permainan ini sangat mudah dimainkan," ujarnya. Saat ini ada 33 komunitas gasing terbentuk di Kukar. Satu komunitas beranggotakan 50-100 orang. Desember nanti, akan digelar Festival Gasing antar kesultanan. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help