TribunKaltim/

Pesta Seni dan Budaya Rakyat Dua Tahunan Birau Kian Meredup

Yang kita harapkan itu selama bulan Oktober. Jadi kalau sudah masuk Oktober, kesannya itu adalah bulan Birau

Pesta Seni dan Budaya Rakyat Dua Tahunan Birau Kian Meredup
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Bulungan menyeberangi Sungai Kayan menggunakan replika Biduk Babandung dalam Perayaan Birau tahun 2016 lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Beberapa tahun belakangan, kemeriahan perhelatan pesta budaya daerah dua tahunan atau disebut Birau di Kabupaten Bulungan, kian redup. Alasannya cukup klasik yakni keterbatasan anggaran.

Sejatinya, Birau ini digelar bersamaan dengan peringatan HUT Kabupaten Bulungan dan HUT Kota Tanjung Selor yang jatuh pada tanggal 12 Oktober.

Informasi yang dihimpun Tribun, Birau tetap akan digelar untuk memperingati HUT Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan di tahun 2017 ini. Hanya saja, Birau kali ini tak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya. Rencananya, Birau ini akan dipusatkan di sekitar museum Kesultanan Kabupaten Bulungan di Kecamatan Tanjung Palas.

Birau ini akan diisi acara antara lain Ritual Adat dan Tari Jepen, dan akan dilanjutkan dengan Lomba Perahu Dayung Tradisional di Sungai Kayan.

Ketua DPRD Kabupaten Bulungan, Syarwani, usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bulungan, Selasa (10/10) dalam rangka HUT ke-227 Kota Tanjung Selor dan HUT ke-57 Kabupaten Bulungan mengatakan, upaya-upaya pelestarian seni dan budaya asli daerah memang sangat perlu mendapat perhatian. Jika terus diabaikan, bukan tidak mungkin seni dan budaya asli daerah itu akan dilupakan oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Ditegaskannya, melestarikan seni dan budaya sebenarnya tak melulu bicara ketersediaan anggaran. Yang penting adalah "gaung" seni dan budaya daerah, khususnya Birau itu harusnya tetap bisa menggema di tengah-tengah masyarakat.

Caranya, Organisasi Perangkat Daerah (ODP) di jajaran Pemkab Bulungan, atau bahkan masyarakat bisa menggelar berbagai kegiatan dengan tema besar "Birau". Bisa berupa bhakti sosial, pengobatan gratis, dan beberapa kegiatan lainnya. Kegiatan tersebut bukan hanya digelar tepat di tanggal 12 Oktober.

"Yang kita harapkan itu selama bulan Oktober. Jadi kalau sudah masuk Oktober, kesannya itu adalah bulan Birau," ujarnya.

Agar lebih mendarah-daging kepada masyarakat, khususnya generasi muda, baik di TK, SD dan SMP, sosialisasi harus digalakan. Materi-materi yang berkaitan dengan seni dan budaya lokal dan makna perayaan Birau itu bisa diselipkan dalam pelajaran.

"Jangan sampai generasi muda itu tidak mengenal, tidak tahu ada hari jadi Kabupaten Bulungan dan Tanjung Selor. Memang bisa juga melalui lembaga pendidikan," ujarnya.

Tak kalah penting, lanjutnya, adalah pembentukan Dewan Kesenian Daerah. Dulu, jelas Syarwani, lembaga ini memang sudah ada. Namun belakangan, kiprahnya tak lagi terdengar. Usulan agar Dewan Kesenian ini kembali dihidupkan sudah disampaikan kepada Bupati Sudjati.

Dewan Kesenian ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk menghimpun seluruh pekerja seni di Kabupaten Bulungan. Dengan lebih terorganisir, perkembangan komunitas-komunitas seni dan budaya akan lebih terpantau dengan baik.

Yang terpenting, jangan sampai ada banyak komunitas yang berdiri, tapi tidak ada satu pun yang mengusung seni dan budaya lokal Kabupaten Bulungan. "Kita ingin, Dewan Kesenian inilah yang akan mengorganisir seluruh potensi budaya yang ada di sini," ujarnya.(*)

Penulis: Doan E Pardede
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help