TribunKaltim/

Ritual Adat 'Bedibai' Dilaksanakan di Komplek Kesultanan Bulungan

Ritual Adat ini menjadi salah satu acara yang paling mendapatkan perhatian warga, khususnya tamu-tamu yang hadir

Ritual Adat 'Bedibai' Dilaksanakan di Komplek Kesultanan Bulungan
TRIBUN KALTIM / DOAN E PARDEDE
Sang nenek memasukkan lilin menyala ke dalam mulut, dalam Ritual Adat Bulungan yang digelar dalam rangka memperingati HUT Tanjung Selor dan HUT Kabupaten Bulungan di Kecamatan Tanjung Palas, Kamis (12/10/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Peringatan HUT ke-227 Kota Tanjung Selor dan HUT ke-57 Kabupaten Bulungan digelar secara sederhana di komplek Kesultanan Bulungan, Kecamatan Tanjung Palas, Kamis (12/10).

Walau tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, beberapa kegiatan seperti ritual adat atau dalam bahasa Bulungan disebut Bedibai tetap dilaksanakan.

Ritual Adat ini menjadi salah satu acara yang paling mendapatkan perhatian warga, khususnya tamu-tamu yang hadir.

Sesuai penjelasan pemandu acara, Bedibai ini merupakan salah satu agenda dalam Kesultanan Bulungan, yang biasa dilaksanakan saat perhelatan Pesta Rakyat Birau. Tujuannya, meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk menjaga keselamatan dan kesehatan, dan agar terhindar dari segala mara bahaya dan bencana. Juga sebagai doa agar para pemimpin tetap sejahtera, panjang umur, dan terhindar dari segala mara bahaya.

Beberapa perlengkapan dalam ritual adat ini antara lain Mahligai, miniatur Rumah Kayan, Biduk Babandung, Biduk Kayan, Kelengkeng, dan sesajen. Ritual adat ini dilaksanakan dalam bahasa Bulungan, diiringi musik, dan disebutkan berlangsung dalam suasana magis.

Nantinya, perlengkapan-perlengkapan ini akan disimpan di beberapa titik di Kabupaten Bulungan, di antaranya di Gunung Putih, Lapangan Agathis, Tugu Telur Pecah, dan di beberapa lokasi lainnya.

Dalam ritual adat ini, dengan diiringi alunan musik, sang nenek dengan kipas di tangan tampak menari mengitari replika Biduk Babandung, Rumah Kayan dan perlengkapan lainnya. Dalam beberapa kesempatan, sang nenek juga memasukkan lilin menyala ke dalam mulut, tak ubahnya seperti seseorang yang sedang merokok.

"Di dunia nyata nenek ini tidak bisa merokok dengan lilin. Ini karena ada roh yang masuk ke dalam tubuhnya," kata pemandu acara dalam penjelasannya kepada warga dan tamu yang hadir.

Sesekali, sang nenek juga menyampaikan beberapa kalimat dalam bahasa Bulungan, yang sesuai penjelasan pemandu acara adalah pesan-pesan dari para leluhur. Di antaranya, leluhur meminta agar ke depannya perayaan HUT ini bisa lebih meriah dari saat ini. "Sabar ya nek, di sini juga ada Pak Bupati dan Pak Wakil Gubernur," kata pemandu acara.

Lebih jauh, Ketua Lembaga Adat Bulungan (LAB), Datu Buyung Perkasa menjelaskan, ritual adat ini memang harus selalu ada dalam perayaan HUT setiap tahunnya. "Tujuannya, agar semua warga baik yang sakit, semua masyarakat yang ada, mendapat anugerah dari Yang Maha Kuasa," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Doan E Pardede
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help