TribunKaltim/

Diklaim 50 Persen Lebih Murah, Pemerintah Didorong Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

nuklir merupakan salah satu Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bisa menghasilkan 5.000 megawatt aliran listrik pada 2025.

Diklaim 50 Persen Lebih Murah, Pemerintah Didorong Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Dua menara pendingin di pembangkit listrik tenaga nuklir Civaux, terlihat di belakang lapangan colza, Perancis, 25 April 2016. Reaktor nuklir Civaux dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Perancis, memiliki daya 1.450 megawatt.(AFP / GUILLAUME SOUVANT) 

TRIBUNKALTIM.CO - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dalam hal pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dinilai bisa menghemat energi hingga 50 persen.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Batan, Djarot Wisnusubroto saat melakukan kunjungan di Kampus Fakultas Teknik Unhas, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (12/10/2017).

Menurut dia, wacana pembangunan PLTN di Indonesia bertujuan baik yang tidak serta merta untuk mengimbangi kerja-kerja PT PLN.

Dia menjelaskan, nuklir merupakan salah satu Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bisa digunakan hingga bisa menghasilkan 5.000 megawatt aliran listrik pada 2025.

Namun setelah nuklir digaungkan, sampai saat ini belum ada tindak lanjut eksekusi dari pemerintah untuk go nuklir.

"Kita akan terus membuat masyarakat yakin akan potensi nuklir untuk energi yang membuat biaya listrik murah dan akan menghemat pembayaran listrik 50 persen dibanding tenaga uap. Gambarannya, jika tenaga uap memakan biaya 12 sen per Kwh, nuklir bisa 6 sampai 8 sen per Kwh," jelasnya.

Djarot berkata bahwa PLTN terbilang aman untuk dimanfaatkan di Indonesia. Hanya saja, masih banyak masyarakat yang belum menerima hal tersebut. Mayoritas khawatir tentang bahaya yang bisa ditimbulkan.

"Oleh karena itu itu, Batan gencar memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya akademisi dan mahasiswa tentang pemanfaatan teknologi nuklir. Masih banyak yang salah kaprah tentang hal tersebut," tuturnya.(*)

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help