TribunKaltim/

Merasa Terancam Aksi Sweeping, Pengemudi Ojek Online Ini Minta Perlindungan

Seorang pengemudi ojek online Go-Jek, Noor Islamsyah (22) mengaku mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari oknum sopir angkot

Merasa Terancam Aksi Sweeping, Pengemudi Ojek Online Ini Minta Perlindungan
Twitter
Transportasi Online 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Seorang pengemudi ojek online Go-Jek, Noor Islamsyah (22) mengaku mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari oknum sopir angkot, Jumat (13/10) kemarin. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 Wita, saat mengantar penumpang dari Prapatan menuju daerah Gunung Bakaran, Balikpapan Selatan.

Ketika melintas Jl Marsma R Iswahyudi, dia dikejar oknum sopir tersebut. Padahal saat itu dirinya tidak mengenakan atribut Go-Jek warna hijau. "Ketahuannya (sebagai ojek online) karena ponsel nempel di depan (spidometer)," ujarnya.

Sadar keselamatannya berikut penumpang yang terancam, Noor langsung memacu kendaraannya menuju Kantor BPJS Ketenagakerjaan dan meminta pertolongan petugas keamanan. "Sopir angkot turun, padahal masih ada penumpangnya, tapi dihalangi sekuriti," tutur Noor.

Baca: Kemenhub Berencana Lelang Rute Kalstar, 5 Rute Terbang dari Kalimantan

Mengetahui rekan seprofesinya hampir menjadi korban penganiayaan, puluhan pengojek daring langsung ngeluruk ke kantor Go-Jek Cabang Balikpapan di Jl MT Haryono tak lama setelah kejadian.

Mereka datang minta perlindungan hukum dari manajemen aplikasi transportasi tersebut. Ambrosius (49), salah seorang pengendara ojek online, kehadiran mereka sebagai bentuk spontanitas. Mereka meminta manajemen Go-Jek mengeluarkan surat resmi yang bisa menjadi pegangan ketika terjadi sesuatu ketika bekerja.

"Spontanitas dari sini, dari kantor suruh keluar pakai jaket atribut semua. Mereka (manajemen Go-Jek) bertanggungjawab apabila terjadi masalah di lapangan. Tapi, kami minta surat rekomendasi resmi, supaya ada pegangan,"ujar Ambrosius didamping teman-temannya.

Baca: Ratusan Anak Panti Berdoa Untuk Kaltim di Resto Milik Jos Soetomo

Sebelumnya, beberapa pengendara Go-Jek maupun ojek berbasis aplikasi online lainnya di Balikpapan, dianjurkan manajemen menanggalkan atribut resmi sampai situasi kondusif. Anjuran itu ditegaskan kembali saat pertemuan mediasi di Mapolres Balikpapan, Kamis (12/10).

Kekahwatiran dia beralasan, lantaran beberapa kawan seprofesinya telah mengalami berbagai tindakan intimidatif seperti sweeping, dikejar-kejar serta perlakuan lain yang menjurus kekerasan, baik verbal maupun fisik.

"Nyawa kami, keluarga, istri kami, kan makan dari kami," jelas Ambrosius yang terpaksa menggunakan jaket berlapis untuk menutupi seragam resmi berwarna hijau miliknya.

Sejumlah aparat Polres Balikpapan berjaga-jaga di kantor Go-Jek mengantisipasi aksi lanjutan. Sempat beredar isu sweeping sopir angkot yang melakukan intimidasi ke pengendara ojek online.

Baca: Periksa Abun, KPK Bawa Dua Koper Dokumen

"Kita cek ke lokasi, tidak terjadi (sweeping), hanya berita hoax. Baik Go-Jek maupun (angkutan) konvensional tidak melakukan apa-apa. Masih kondusif," ujar Kompol Supriyanto, Kabag Ops Polres Balikpapan. (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help