TribunKaltim/

Sederet Tanda Ini Jadi Alarm Bakal Punahnya Populasi Orangutan di Kalimantan

Logikanya habitatnya terus berkurang, otomatis pakan berkurang. Sementara, yang diperlukan orangutan itu pakan

Sederet Tanda Ini Jadi Alarm Bakal Punahnya Populasi Orangutan di Kalimantan
Greenpeace/ Ulet Ifansasti
Jumlah orangutan di Indonesia terus menurun. Dari estimasi terbaru dalam laporan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan Indonesia Tahun 2016 yang diluncurkan hari ini, dinyatakan kepadatan populasi orangutan di daratan Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak) menurun dari 0,45-0,76 individu/km2 (PHVA 2004) menjadi 0,13-0,47 individu/km2. 

Laporan Wartawan TribunKaltim.co, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Populasi orangutan di Kaltim terindikasi mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Hal ini terlihat dari penurunan luasan habitat orangutan.

Peneliti orangutan dari Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin mengungkapkan sejumlah indikator penyebab menurunnya populasi orangutan di Bumi Etam.

Baca: Asap Putih Membumbung di Gedung Nusantara III DPR RI

 “Saya bisa sebut, berkurang. Kenapa? Logikanya habitatnya terus berkurang, otomatis pakan berkurang. Sementara, yang diperlukan orangutan itu pakan,” kata Yaya, di sela kegiatan Penyusunan Rencana Aksi Konservasi Orangutan, Regional Kaltim, di Hotel Grand Victoria, Selasa (14/11/2017).

Indikator berkurangnya pakan, kata Yaya, terl

Baca: 2 Kisah Main Hakim Sendiri di Indonesia yang Berakhir Tragis

ihat dari sebaran orangutan, yang kerap ditemui di konsesi perkebunan sawit, pertambangan, hutan tanaman industri (HTI), kebun masyarakat, hingga perkampungan. “Sebaran orangutan identik dengan ketersediaan pakan,” kata Yaya.

Baca: Saksi Bertambah, Orang Ini Benarkan Umi Pipik Telah Menikah dengan Sunu 3 Tahun Lalu

 Dari beberapa hasil kajian, Yaya juga menyebut populasi orangutan Kaltim diambang kepunahan. Hal ini ditunjukkan dengan indikator struktur populasi yang tak lagi seimbang.

Dari beberapa orangutan yang diselamatkan, ditangkap dan laporan lembaga lain yang diterima Yaya, 60 persen diantaranya merupakan pejantan dewasa.

 “Ini bahaya. Karena betina dan anak sedikit. Indikator struktur populasi yang rusak, ini jalan terdekat menuju kepunahan orangutan di beberapa tempat,” ungkap Yaya.

Dari hasil penelitian, Yaya memerkirakan masih ada sekitar 6.000 individu orangutan yang hidup dalam ancaman di Bentang Alam Kutai, seluas 3 juta hektare. Bentang alam Kutai ini berada di beberapa kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Kutai Barat.  (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help