TribunKaltim/

Pemkab Malinau Akan Bangun Dua Pasar di Perbatasan

Dua pasar yang akan dibangun itu bisa dikatakan berada di daerah perbatasan. Desa Long Nawang adalah desa perbatasan

Pemkab Malinau Akan Bangun Dua Pasar di Perbatasan
Tribun Kaltim/Purnomo Susanto
Mus menjual ponsel di toko kelontongan miliknya di Desa Long Sule Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Malinau. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Dua pasar dari program pembangunan dan revitalisasi 5.000 pasar di seluruh Indonesia oleh Presiden Joko Widodo telah terbangun di Malinau. Tahun 2018 mendatang, direncanakan ada tiga pasar kembali dibangun. Dua pasar akan dibangun di daerah perbatasan dan pedalaman.

Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diseperindag) Malinau, Ezra Stevanus mengungkapkan, dua pasar yang telah dibangun tahun 2017, masing-masing dibangun di sekitaran pusat pemerintahan dan di daerah penyangga perbatasan. Pasar tradisional di Desa Respen Tubu, Kecamatan Malinau Utara, dibangun di sekitar pusat pemerintahan.

"Pasar kedua yang dibangun tahun 2017, adalah Pasar Data Dian, di Desa Data Dian Kecamatan Kayan Hilir yang merupakan salah satu desa penyangga perbatasan. Desa ini juga masuk dalam wilayah Apo Kayan. Untuk dua desa itu, semua sudah terbangun," tuturnya.

Usulan untuk pembangunan 3 pasar ini, kata Ezra, telah masuk dan menunggu persetujuan pemerintah pusat. Apabila disetujui, 3 pasar itu akan segera berdiri. Adapun 3 desa itu, akan dibangun di Desa Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan, Desa Long Nawang Kecamatan Kayan Hulu dan Desa Kaliamok Kecamatan Malinau Utara.

"Dua pasar yang akan dibangun itu bisa dikatakan berada di daerah perbatasan. Desa Long Nawang adalah desa perbatasan. Begitu pula dengan Long Ampung. Kedua desa ini juga masuk dalam daerah Apo Kayan. Semoga saja, usulan kita disetujui dan pasar-pasar itu dapat segera dibangun," paparnya.

Sebenarnya, ungkap Ezra, ada 4 pasar diusulkan agar dibangun tahun 2018 mendatang. Selain 3 pasar di tiga desa itu, pasar juga rencana dibangun di Desa Long Sule Kecamatan Kayan Hilir. Hanya saja, wilayah Desa Long Sule yang masuk dalam hutan lindung membuat rencana pengajuan pembangunan pasar tersebut dibatalkan.

"Susah kita membangun di Long Sule, daerahnya masuk kawasan hutan lindung. Pasti akan terkendala izin dan lain-lain. Kalau di dua desa lainnya itu, cukup aman untuk dibangun pasar. Terlebih di Desa Long Ampung. Sebelum kita rencanakan pembangunan pasar di desa ini, dulunya memang sudah ada pasar. Jadi, bisa dikatakan aman," jelasnya.

Penyaluran dana revitalisasi ini, tutur Ezra, menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Tugas Pembantuan (TP). Tujuan pembangunan pasar-pasar ini, ditujukkan kepada daerah-daerah terdalam, terluar, dan tertinggal.

"Kabupaten Malinau kan termasuk daerah itu. Oleh karenanya, Malinau mendapat program pembangunan dan revitalisasi 5.000 pasar ini. Pasar yang dibangun nanti sama dengan dua pasar yang dibangun sebelumnya, yakni dengan konstruksi tembok dan beton. Semua pasar ini merupakan pasar tradisional," jelasnya lagi.

"Untuk pembangunan pasar tahun 2017 ini, dana yang digunakan sekitar Rp 946 juta. Kemudian, pengerjaannya dilaksanakan oleh CV Mandiri Permai," lanjutnya. Seperti diketahui, untuk membangun pasar di daerah perbatasan dan pedalaman memerlukan anggaran yang sangat besar. Pasalnya, biaya pembangunan di daerah tersebut lebih tinggi daripada di daerah pusat pemerintahan. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help