TribunKaltim/

Polemik Yerusalem

Trump Wujudkan Janji Kampanyenya, Ini Pidato Lengkap Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

Mengakui hal ini sebagai sebuah fakta adalah syarat yang diperlukan untuk mencapai perdamaian, kata Trump dalam pidatonya

Trump Wujudkan Janji Kampanyenya, Ini Pidato Lengkap Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibukota Israel
Warga Palestina membakar gambar-gambar Presiden Amerika Donald Trump di Bethlehem, 5 Desember 2017. Trump akan mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada hari ini, Rabu (6/12) - AFP via VOA 

TRIBUNKALTIM.CO, WASHINGTON DC - Amerika Serikat (AS) melalui Presiden Donald Trump, akhirnya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Keputusan Trump ini sebenarnya merupakan penegasan pemberlakuan Jerusalem Embassy Act yang dikeluarkan Kongres AS pada 23 Oktober 1995, yang diloloskan untuk memulai dan mendanai relokasi Kedutaan Besar AS di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem, dan menahan 50 persen anggaran yang dialokasikan ke Departemen Luar Negeri untuk akuisisi dan pemeliharaan bangunan di luar negeri.

Berikut pidato lengkap Donald Trump soal pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, di Gedung Putih, Washington DC, pada Rabu (6/12/2017) siang waktu AS atau Kamis (7/12/2017) dini hari WIB, dikutip dari laman whitehouse.gov.

Presiden AS Donald Trump memegang proklamasi yang ia tandatangani, yang menyatakan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, setelah selesai menyampaikan pidato di Gedung Putih di Washington, 6 Desember 2017. AS juga bakal memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem - REUTERS
Presiden AS Donald Trump memegang proklamasi yang ia tandatangani, yang menyatakan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, setelah selesai menyampaikan pidato di Gedung Putih di Washington, 6 Desember 2017. AS juga bakal memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem - REUTERS 

Terima kasih. Ketika saya mulai menjabat, saya berjanji untuk melihat tantangan dunia dengan mata terbuka dan pemikiran sangat segar.

Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kita dengan membuat asumsi gagal yang sama dan mengulang strategi masa lalu yang sama yang telah gagal. Semua tantangan memerlukan pendekatan-pendekatan baru.

Pengumuman saya hari ini menandai awal pendekatan baru untuk konflik antara Israel dan Palestina. Tahun 1995, Kongres mengadopsi Undang-undang Kedutaan Yerusalem yang mendorong pemerintah federal untuk merelokasi Kedutaan Besar Amerika ke Yerusalem, untuk mengakui bahwa kota itu, dengan sangat penting, merupakan ibu kota Israel.

Undang-undang ini diloloskan Kongres dengan suara bipartisan mayoritas sangat besar. Dan ditegaskan oleh suara bulat Senat hanya enam bulan lalu.

Namun, selama lebih dari 20 tahun, setiap Presiden Amerika sebelumnya telah memberlakukan hukum waiver, menolak untuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem atau untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Presiden-presiden menerbitkan waiver ini dengan keyakinan bahwa menunda pengakuan Yerusalem akan memajukan isu perdamaian. Beberapa pihak menyebut mereka kurang berani, tapi mereka memberikan penilaian terbaik mereka berdasarkan fakta-fakta yang mereka pahami saat itu.

Namun demikian, semuanya tercatat. Setelah lebih dari dua dekade menerbitkan waiver, kita tidak juga lebih dekat pada kesepakatan perdamaian abadi antara Israel dan Palestina. Akan menjadi kebodohan untuk beranggapan bahwa mengulang formula yang sama persis sekarang akan menghasilkan sesuatu yang berbeda atau lebih baik.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help