TribunKaltim/

Polemik Yerusalem

Gawat, Dunia Arab dan Muslim Mulai Marah, Pengakuan Amerika Atas Yerusalem Picu Radikalisme

Pengakuan Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel juga memicu kemarahan di dunia Arab dan Muslim serta kekhawatiran dari sekutu-sekutu Amerika.

Gawat, Dunia Arab dan Muslim Mulai Marah, Pengakuan Amerika Atas Yerusalem Picu Radikalisme
Warga Palestina membakar bendera Israel dan Amerika Serikat dalam sebuah demonstrasi terhadap niat Amerika Serikat memindahkan kedubes mereka ke Yerusalem dan mengenali Yerusalem sebagai ibukota Israel, di Kota Gaza, Rabu (6/12/2017) - ANTARA FOTO/REUTERS/MOHAMMED SALEM 

TRIBUNKALTIM.CO - Bentrokan antara demonstran Palestina dan pasukan Israel serta protes di jalan-jalan terjadi hari Kamis (7/12) di Tepi Barat dan Gaza, setelah Presiden Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Di Tepi Barat, kerumunan demonstran melemparkan batu ke arah pasukan Israel dan membakar ban-ban di Ramallah, pusat pemerintahan Palestina, di mana asap hitam tebal membubung di kota itu. Puluhan orang luka ringan dalam bentrokan tersebut.

Di Betlehem, kota kelahiran Yesus, tentara menembakkan meriam air dan gas air mata ke arah demonstran, sementara di Gaza, demonstran membakar poster Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta membakar bendera-bendera Amerika dan Israel.

Palestina menutup toko-toko dan sekolah-sekolah dalam pemogokan umum, sementara Ismail Haniyeh, pemimpin kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza, menyerukan pemberontakan bersenjata ke-tiga Palestina dalam melawan Israel.

Para demonstran Palestina berlarian menghindari gas air mata yang ditembakkan pasukan keamanan Israel dalam aksi protes di dekat Ramallah, Tepi Barat, Kamis (7/12) - REUTERS
Para demonstran Palestina berlarian menghindari gas air mata yang ditembakkan pasukan keamanan Israel dalam aksi protes di dekat Ramallah, Tepi Barat, Kamis (7/12) - REUTERS 

Khawatir akan eskalasi situasi, Israel menambah pasukan keamanan di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan di perbatasan Gaza.

Pengakuan Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel juga memicu kemarahan di dunia Arab dan Muslim serta kekhawatiran dari sekutu-sekutu Amerika.

Di Yerusalem terletak Masjid Al-Aqsa, tempat tersuci ke-tiga dalam Islam, dan Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara mereka pada masa depan.

Banyak negara di seluruh dunia telah lama berpendapat bahwa status akhir kota itu hanya akan diputuskan melalui perundingan perdamaian Israel-Palestina. Akan tetapi para pejabat Palestina menyatakan keputusan Trump telah mendiskualifikasi Amerika sebagai perantara dalam proses perdamaian.

Namun bagi Israel, kompleks Al-Aqsa yang dikenal sebagai Temple Mount, adalah lokasi dua lokasi yang disebut dalam kitab suci dan merupakan tempat paling suci bagi umat Yahudi.

“Keputusan presiden merupakan langkah penting menuju perdamaian, karena tidak ada perdamaian yang tidak mencakup Yerusalem sebagai ibukota negara Israel," kata Netanyahu seperti dikutip VOA Indonesia.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help