TribunKaltim/

Antrean Kendaraan Macet Hingga 4 Jam akibat Jalan Poros Teluk Muda Putus

Antrean kendaraan roda empat terlihat di jalan poros Teluk Muda, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kukar, dalam beberapa hari terakhir.

Antrean Kendaraan Macet Hingga 4 Jam akibat Jalan Poros Teluk Muda Putus
ISTIMEWA
Warga menarik kendaraan akibat akses jalan poros Teluk Muda, putus.

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Antrean kendaraan roda empat terlihat di jalan poros Teluk Muda, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kukar, dalam beberapa hari terakhir. Kemacetan kendaraan ini berlangsung hingga 4 jam yang dipicu jalan putus di Teluk Muda sepanjang 20 meter.

Kondisi ini kerap dikeluhkan warga sekitar, terutama para pengguna jalan. "Kemarin, saya lewat jalan Teluk Muda. Kebetulan saya baru pulang kuliah dari Tenggarong. Sekitar pukul 14.00, saya lihat antrean kendaraan roda 4 begitu panjang karena akses jalan Teluk Muda yang putus. Kalau naik mobil bisa kena macet 4 jam," kata Yeni, warga Desa Ritan, Kecamatan Tabang, Rabu (3/1/2018).

Beruntung, Yeni mengendarai motor sehingga tidak terjebak macet terlalu lama. "Kalau naik motor, banyak orang bantu seperti ramai-ramai menggotong saat lewati jalan putus," tutur perempuan yang berprofesi sebagai guru honor SD di Tabang itu.

Kondisi jalan Teluk Muda yang putus ini terjadi sejak banjir besar pada Desember 2017 lalu. Kondisi tanah yang lembek membuat jalan mudah tergerus air. "Kalaupun ditimbun batu percuma. Kalau hujan turun deras seperti kemarin malam, jalan Teluk Muda sudah seperti sungai," ujar Yeni.

Akses jalan makin rusak parah karena dilintasi kendaraan berat roda 6 yang memang dilarang. Pengendara roda 6 ini tak punya pilihan selain melewati jalan poros Teluk Muda. Pasalnya, mereka enggan naik feri penyeberangan dari Kota Bangun ke Kahala karena biayanya sangat mahal, yakni Rp 1,2 juta sekali jalan. Sehingga kendaraan berat, seperti dump truk, tampak seliweran lewat jalan poros Teluk Muda yang putus.

Kondisi ini juga berdampak pada naiknya tarif angkutan travel dari Tabang ke Tenggarong atau Samarinda dari yang semula Rp 180 ribu/orang menjadi Rp 250 ribu/orang. "Ini bisa dimaklumi karena angkutan travel ini harus memutar dari Kahala turun ke Kembang Janggut," kata Yeni.

Ia berharap pemerintah dan anggota DPRD bisa memerhatikan kondisi jalan warga pedalaman. "Sesekali tengoklah kami di saat musim hujan karena pemandangan seperti ini akan hadir di kala musim hujan (jalan poros Teluk Muda). Jalan berlumpur, tersiram hujan," tuturnya.

Warga Hulu Mahakam tak hanya dihadapkan pada kondisi jalan yang putus. Mereka juga harus melewati 2 jembatan darurat yang dibangun warga sekitar karena jembatan sebelumnya juga putus.

Perbaikan kedua jembatan juga sampai kemarin belum tampak. Warga harus membayar tarif Rp 10 ribu saat melewati jembatan darurat. Jembatan darurat ini berada di Desa Tuanah Tuha, Kenihan dan Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut. "Kalau melewati 2 jembatan darurat harus menyiapkan uang Rp 20 ribu, bolak-balik sudah Rp 40 ribu. Kami warga pedalaman ini sudah hidup susah, malah ditambah biaya lewat jembatan darurat. Belum lagi, kami harus mengeluarkan biaya bensin," keluhnya.

Agus Supriyadi, warga Tuana Tuha, juga mengeluhkan kondisi Jalan Teluk Muda yang putus. "Jalan putus sedikit di daerah Teluk Muda susah dilewati kendaraan. Biaya tarik mobil oleh warga mencapai Rp 50 ribu sekali tarik," kata Agus. Padahal, lanjutnya, jika pengendara mau melaksanakan iuran paling sedikit 10 ret dumptruck, maka jalan putus itu bakal tersambung kembali. Ia justru mempertanyakan kinerja Kades selama ini. "Seandainya kinerja kades berjalan pasti bisa diatasi jalan putus ini," ucapnya.(*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help