TribunKaltim/

Resah Jadi Karyawan? Jangan Khawatir Itu Tanda Pengusaha Sukses

Perasaan sudah keren dan tidak ada yang perlu diperbaiki menjadi hidden enemy yang sangat berbahaya.

Resah Jadi Karyawan? Jangan Khawatir Itu Tanda Pengusaha Sukses
Thinkstock
Ilustrasi 

TRIBUNKALTIM.CO - Stand up comedy akhir-akhir ini semakin menjamur di Indonesia, dan saya bukan sekadar menikmati kelucuannya namun juga belajar beberapa hal di dalamnya.  Salah satu statement dari seorang coach-nya, yaitu mulailah dari keresahan. 

Script sebuah stand up comedy yang kuat adalah relevan dengan audience-nya, dan tingkat relevansi yang tinggi itu bisa membicarakan keresahan yang sama.

Tidak hanya untuk stand up comedy, menurut saya, menciptakan kemajuan di pekerjaan dan organisasi juga harus dimulai dari keresahan.  Mengapa harus dimulai dari keresahan? Keresahan menjadi titik awal melakukan kemajuan. Alasannya sederhana, orang yang resah (seharusnya) akan bergerak secara instingtual untuk mengatasi keresahannya. 

Orang yang punya keterbatasan waktu, seharusnya mulai mencari cara untuk mengelola waktunya dengan strategik. Situasi yang lebih tak menentu seharusnya membuat orang lebih proaktif dan memikirkan contingency plan-nya. 

Saat karier terasa berjalan di tempat, kemajuan harusnya lebih dilakukan untuk membuat perjalanan karier lebih menarik lagi.  Saat klien lebih tidak puas dengan hasil kerja kita, kita mencari terobosan baru untuk mengembalikan kepuasan klien tersebut.

Apa saja contoh-contoh keresahan dalam bekerja yang justru bisa menjadi dasar untuk menciptakan kemajuan?

1. Kegemasan akan belum optimalnya peran yang dilakukan
2. Geregetan karena kurang efisiennya proses yang ada
3. Tidak seru karena banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan tapi kurang menarik
4. Gugup untuk tugas yang masih dirasa sulit
5. “Blank” karena banyak yang tidak diketahui 
6. Sayang karena cost yang bengkak secara tidak perlu

Di tim Daily Meaning juga saya biasakan untuk berdialog mengenai keresahan yang terjadi, kemudian dilanjutkan dengan mencari jalan keluarnya. Contohnya efisiensi pembuatan laporan workshop. Saya orang yang tidak menikmati pekerjaan administratif, tapi tahu bahwa itu menjadi bagian dari yang harus dilakukan. 

Saya mendorong tim untuk mencari cara untuk mengefisienkan proses pembuatan laporan. Biasanya, respons dari peserta pelatihan terhadap challenge yang kami berikan akan dicatat satu persatu untuk kemudian dituangkan dalam laporan.

Kemajuan selanjutnya adalah meminta peserta menuliskan langsung jawabannya dalam form yang sudah kami buat dan diletakkan di Google Drive, sehingga datanya bisa langsung dikompilasi dan dianalisis secara efisien.
Progress yang berangkat dari keresahan akan proses pembuatan laporan ini justru banyak sekali. Tidak hanya satu  pulau yang terlampaui dengan sekali dayung, namun juga waktu dan tenaga. 

Halaman
12
Editor: Rita
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help