Alih Kelola Blok Mahakam Tak Beri Kontribusi

Blok Mahakam inikan ganti baju (pengelola) saja. Dari berbagai informasi yang kita amati, kontraktor baru (PHM) akan mempertahankan produksi

Alih Kelola Blok Mahakam Tak Beri Kontribusi
TRIBUN KALTIM / ARIF FADILLAH
Salah satu sumur di blok Mahakam yang terdapat di lapangan SPU. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Alih pengelolaan Blok Mahakam di awal 2018 ini diperkirakan tak memberikan pengaruh terhadap iklim ekonomi makro di Kaltim.

Diketahui, per 1 Januari 2018, Total E&P Indonesie dan Inpex Coorporation yang mengelola Blok Mahakam sekitar 50 tahun, resmi digantikan oleh Pertamina Hulu Mahakam.

Kepala Tim Advisory Ekonomi & Keuangan / Asisten Direktur, Bank Indonesia (BI) Kaltim, Harry Aginta mengatakan, sementara ini belum terlihat tanda-tanda produksi gas di Blok Mahakam akan meningkat.

“Blok Mahakam inikan ganti baju (pengelola) saja. Dari berbagai informasi yang kita amati, kontraktor baru (PHM) akan mempertahankan produksi yang dicapai kontraktor sebelumnya,” kata Harry, Kamis (4/1/2018).

Meski PHM mengebor beberapa sumur baru, menurut Harry, upaya tersebut hanya untuk mencegah penurunan produksi yang lebih dalam, di Blok yang berlokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut.

“Dari berita yang beredar PHM akan mengebor 15 sumur lagi. Tapi, itu tidak dalam rangka meningkatkan produksi. Hanya mempertahankan agar penurunan produksi tidak jauh. Katakanlah jika tak mengebor lagi, penurunan bisa sampai 10 persen. Tapi, dengan mengebor lagi, penurunan hanya 3 persen,” urai Harry.

Kondisi ini, lanjut Harry, tak lepas dari kondisi Blok Mahakam yang merupakan lapangan migas berusia tua.

“Sehingga secara natural produksinya akan terus menurun,” katanya lagi.

Dengan kondisi produksi yang demikian, Harry menilai peralihan pengelolaan Blok Mahakam tidak akan memberikan kontribusi terhadap iklim ekonomi makro di Bumi Etam.

“Kalau ekonomi makro, tidak berdampak banyak ke Kaltim. Justru kita berharap kontraktor baru, bisa mempertahankan produksi yang dicapai kontraktor lama. Kalau bisa produksi ikut meningkat,” tuturnya. (*)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help